"Masyarakat tidak perlu khawatir karena sifatnya nggak bertahan lama," ujar Kepala Sub Bidang Informasi Meteorologi Publik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Hari Tirto, ketika dihubungi detikcom, Jumat (23/10/2015) petang.
Menurut Hari, masyarakat perlu mewaspadai visibility (jarak pandang) karena akan sedikit terhalang. Selain itu tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena udara akibat kabut terasa lebih sejuk dari hari sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penyebabnya dengan yang di Bandung dan Semarang sama saja, itu kombinasi. Bahasa dalam dunia cuaca itu haze. Bahasa orang pintar timbulnya haze itu adveksi. Fenomena ini terjadi di Banten, Jabar, Semarang, Jateng bagian barat dan utara," kata Hari.
Penjalaran kabut, lanjut Hari, berasal dari udara di Samudera Hindia yang bersifat panas dan kering bertemu di utara Pulau Jawa yang lembab atau masuk daerah dingin.
"Kebetulan dari analisis kondisi atmofsir adanya gangguan lapisan atmosfir di ketingian di atas 2.000-3.500 meter yang disebut inversi. Inversi adalah meningkatnya suhu udara di lapisan atmosfir secara ketinggian, seharusnya suhu udara menurun. Tapi ini udara di bawahnya lebih dingin dan di lapisan atasnya panas. Jadi seolah-olah udara dimampatkan dan secara visual terlihat seperti kabut," bebernya.
Kabut yang terjadi di Bandung dan Jember sempat mengganggu penerbangan. Bahkan sejumlah penerbangan ke Bandung dialihkan ke Jakarta. Sedang kabut di Jakarta tidak sampai mengganggu penerbangan. (nwy/nrl)











































