Pantauan detikcom, Jumat (23/10/2015), bau asap sudah terasa sejak di dalam kabin pesawat yang baru landing di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II sekitar pukul 13.35 WIB. Β
Pemandangan tak jauh berbeda ketika memasuki kota Palembang. Kabut tebal dan matahari yang sama sekali tampak. Selain itu, nafas sesak dan kepala pusing juga jelas terasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Namun begitu, tidak semua warga tampak menggunakan masker dalam beraktifitas di luar ruangan. Warga mengaku merasa panas jika menggunakan masker.
"Nafas memang terasa jadi pendek. Tapi panas kalau pakai masker, sumpek," kata seorang tukang ojeg bernama Budi.
![]() |
Budi menjelaskan, sudah tiga bulan kota Pempek ini tak diguyur hujan. Dia meyakini hanya hujan yang dapat melenyapkan asap dan memadamkan api.
"Kayaknya Palembang musuhan sama hujan, sudah lama nggak hujan," ujarnya.
Senada dengan Budi, warga lainnya bernama Anis juga mengatakan bantuan dari negara lain untuk memadamkan kebakaran dan bencana kabut asap juga belum terasa dampaknya hingga kini.
"Nggak kelihatan dampaknya bantuan dari luar negeri itu, biaya besar, hasilnya nggak kerasa. Mending uangnya kasih ke tukang ojek. Yang ada tambah pedas mata," kata Anis.
"Kalau hujan dua kali, lenyap ini semua," tandasnya.
(idh/erd)













































