Bergabungnya Somalia dengan IORA memungkinkan pembahasan isu perompakan semakin intens. Terlebih, perompakan menjadi salah satu ancaman bagi penguatan keamanan maritim di Samudera Hindia.
"Keamanan menjadi prioritas nomor satu. Somalia memiliki sejarah permasalahan perompakan. Sudut pandang Somalia ialah perompakan berawal karena fishing di perairan Somalia, ilegal fishing. Dari situlah pembajakan dimulai," tutur Sekjen IORA KV Bhagirath saat ditemui di Mercure Hotel, Padang, Rabu (21/10/2015) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dijadwalkan, Somalia akan menandatangani dokumen ketetapan anggota IORA dalam perhelatan tahun ini di Padang. Namun perwakilan Somalia berhalangan hadir. Kendati demikian, IORA tetap menyambut baik Somalia sebagai anggota barunya.
"Mereka memberitahu kami bahwa mereka akan berpartisipasi dalam penandatanganan. Mereka masih mengusahakan untuk mengirimkan pejabatnya untuk hadir," tutur Bhagirath.
Permasalahan perompakan sendiri memang menjadi kekhawatiran negara-negara anggota IORA yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Bahkan jauh sebelum Somalia berniat bergabung.
"Sebelum masuknya Somalia, piracy sudah menjadi concern, dari semua negara tingkat Samudera Hindia. Dengan masuknya Somalia, tentu ada sharing yang lebih mendalam, lebih terbuka, mungkin kita bisa bantu kalau ada permasalahan," cetus Direktur Kerjasama Intrakawasan Asia Pasifik Afrika pada Kementerian Luar Negeri, Benyamin Carnadi.
IORA sekarang memiliki 20 negara anggota antara lain Australia, Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Sri Lanka, India, Bangladesh, Iran, Uni Emirat Arab, Oman, Yaman, Mauritius, Seychelles, Uni Comoros, Madagaskar, Tanzania, Kenya, Mozambik dan Afrika Selatan. Posisi Ketua IORA yang sebelumnya dipegang Australia, akan dijabat Indonesia untuk dua tahun ke depan. Untuk tahun ini, IORA digelar 20-23 Oktober dengan mengambil lokasi di Jakarta dan Padang. (nvc/hri)











































