Salah satu yang kebanjiran rezeki adalah Jamaludin. Tukang sumur bor yang tinggal di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, ini mengakui di musim kemarau ini dia mendapatkan permintaan lebih dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
"Alhamdulillah ada saja yang minta bantu diperdalam pipa pompa airnya," tutur Jamaludin saat berbincang dengan detikcom, Rabu (21/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jamaludin kadang mendapatkan permintaan membuat sumur bor baru. Tapi ia akan menyanggupi jika fisiknya sedang fit.
"Soalnya tidak mudah bikin lubang baru. Selain butuh tenaga ekstra, kadang ada yang sudah sampai dalam tapi airnya tidak keluar juga," jelas Jamaludin.
Ia melanjutkan bahwa kadang ada orang baik yang memberi uang lebih. Setiap pekerjaannya ia dibantu temannya. "Kalau sendiri saya kewalahan," kata Jamaludin sambil tertawa.
Jamaludin bercerita keahliannya ini didapatkan secara otodidak. "Awalnya saya ikut teman untuk bantu (mengebor sumur). Sambil belajar saya tabung uang untuk beli peralatan seperti kunci Inggris."
Setelah dirasa mampu, ia menawarkan jasanya. Tapi ia mengambil pesanan di luar wilayah jangkauan temannya.
"Saya sengaja ngebor di daerah lain. Jaga hubungan baik sama teman yang sudah mengajarkan," ucapnya sembari tersenyum.
Ia bercerita bahwa mengebor sumur bukan sebagai penghasilan utama. "Di rumah saya jualan sembako dan sayuran. Jadi kalau ada yang order, warung diurus istri," ucap bapak dua anak ini.
Ada juga pengebor sumur lain, Abdul Haris (43). Menurut Abdul Haris, untuk mendapatkan air bersih dirinya harus mengebor sumur hingga kedalaman 30 meter lebih.
Menurutnya, jika kurang dari situ kadang airnya masih keruh dan tidak bertahan lama. "Sebelum mengebor biasanya saya tanya dulu pemilik rumah, berapa kedalaman pipa pompa airnya," tutur Abdul Haris.
Sama seperti Jamaludin, Abdul Haris pun masih melakukan pengeboran secara manual. "Modal saya sedikit, jadi saya kerjakan secara manual," terang Abdul Haris.
Meskipun mendapatkan penghasilan tambahan, keduanya mengharapkan agar musim panas ini segera berakhir. Sehingga warga tidak ada lagi warga yang harus kesusahan mendapatkan air bersih. Dan tidak ada petani desa yang gagal panen. (van/nrl)











































