Lahan kebun dengan berbagai tanaman itu memang milik keluarga Sutopo turun temurun. Gundukan di tengah kebun juga sudah lama ada di sana. Bahkan dulunya di atas gundukan terdapat arca Ganesha yang dicuri. Memang ada batu menyerupai batu bata yang terlihat di luar gundukan, namun Sutopo mengira itu memang bata untuk bangunan yang tidak terpakai dan dikumpulkan di sana.
"Setahu saya itu tumpukan tanah ada tumpukan bata ada arcanya dulu. Orang sini tidak ada yang tahu (kalau ada situs kuno). Kok ternyata malah situ (arkeolog) tahu dan pusatnya di situ," kata Sutopo saat ditemui detikcom di rumahnya yang tidak jauh dari kebun, Rabu (21/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sutopo (Foto: Angling AP/detikcom) |
"Mereka pakai alat itu bisa pas menemukan sudutnya, terus ketemu panjang lebarnya sekitar 9 meter," tandas Sutopo.
Sejak Sutopo masih kecil, ia hanya mengetahui kebun tersebut memang punya daya tarik pada arca Ganesha yang memiliki luka di gadingnya. Sejumlah siswa SD kerap datang ke sana kala itu dan sesekali ada yang menaruh sesaji di sana.
"Waktu saya SD banyak anak-anak SD lain yang datang sama gurunya. Terus kadang pas saya pulang sekolah ada bunga-bunga dan uang 5 sen. Orang dulu percaya klenik, sekarang sudah enggak," kenangnya.
Pihak Disbudpar Kota Semarang memang sempat meminta bantuan Sutopo pada tahun 1980-an untuk menjaga arca Ganesha yang sengaja tidak dipindahkan dari gundukan. Namun arca tersebut hilang diambil warga yang tidak bertanggungjawab.
"Saya diwanti-wanti sama Disbud bagian purbakala namanya pak Nardi waktu itu karena saya yang punya tanah," ujarnya.
Sutopo mengaku senang dengan adanya tim PPAN yang melakukan eskavasi tanggal 25 hingga 29 September lalu karena kebunnya jadi banyak dikunjungi. Jika nantinya dijadikan tempat wisata, Sutopo mengaku pasrah saja.
"Kalau mengharuskan dibuat wisata apa boleh buat, nanti di sini bisa tambah ramai. Ini untuk kepentingan orang banyak juga. Tapi saya khawatir kalau ada yang mengatasnamakan pemerintah tapi terus dijual lagi," ujar suami dari Senah (59) itu.
Tim PPAN melakukan ekskavasi pada akhir September 2015 dan menemukan bangunan serupa candi yaitu 9,3 m x 9,3 meter. Sejumlah batu sampel dibawa untuk diteliti agar diketahui usia situs tersebut. Meski demikian situs yang ditemukan berbentuk susunan bata berundak itu dibangun pada zaman Kerajaan Mataram Kuno.
Sementara itu sisi gundukan tanah yang sempat digali tim arkeolog memperlihatkan batu yang ditumpuk membentuk undakan di candi. Saat ini lubang galian tersebut kembali diurug tanah untuk menjaga agar tidak rusak hingga ada tindakan lebih lanjut.
"Kemarin diberi sak (karung) kemudian ditimbun lagi," kata Sutopo.
(alg/try)












































Sutopo (Foto: Angling AP/detikcom)