"Saya sudah terbiasa hidup sederhana. (Seperti) Nyuci baju dan nyetrika sendiri. Itu sudah biasa," kata Dr Joko saat berbincang dengan detikcom, Rabu (21/10/2015).
"Kalau ke Mahkamah Agung (MA), saya naik kereta api dan dilanjut ngojek. Kalau naik mobil macet dan lama," sambung Dr Joko.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kalau ditanya apakah nanti akan berubah, ya berubah apanya. Saya olah raga sukanya voli dan tenis lapangan juga lari. Itu semua untuk menjaga kesehatan. Kalau golf, saya tidak tahu," ujar Dr Joko.
Joko kini bertugas di Pengadilan Militer Jakarta yang berkantor di Jakarta Timur. Sejak Juni 2015, ia memasuki masa pensiun karena menginjak usia 58 tahun. Istrinya ditinggal di kampung halamannya di Gresik, Jawa Timur. Nama Kolonel Dr Joko dikenal publik saat mengadili kasus penyerangan LP Cebongan dengan terdakwa para anggota Kopassus.
"Saya cuma tamatan STM. Tapi alhamdulillah bisa pensiun kolonel. Kedua anak saya sudah bekerja semua, di BUMN. Saya sangat senang dan bersyukur terpilih," ucap doktor dari Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang dengan disertasi tentang pengadilan HAM itu.
Orang yang pertama kali diberitahu terkait dirinya dipilih DPR adalah istrinya.
"Terus terang tidak menyangka. Saya orang paling kecil, paling bawah. Saya hakim tingkat pertama. Ini semua berkat doa teman-teman dan kehendak Tuhan," pungkas Dr Joko. (asp/nrl)










































