"Kami di Riau korban bencana asap. Riau sepanjang masih punya lahan, pasti akan terbakar. Kelapa sawit paling besar di Riau, tapi itu hanya menguntungkan korporasi. Orang Riau sendiri semakin miskin," ungkap Kepala Badan Penghubung Pemda Riau di Jakarta Doni Aprialdi.
Hal tersebut diucapkan Doni saat mewakili Gubernur Riau dalam diskusi di Kantor BPPT, Jl MH Thamrin, Jakpus, Selasa (20/10/2015). Melihat warganya berbulan-bulan harus menanggung kabut asap, Doni kesal, khususnya kepada para pelaku kebakaran lahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seperti yang dikatakan salah satu profesor, sudah saatnya UU teroris diterapkan juga bagi yang membakar lahan, karena mereka membunuh pelan-pelan jutaan manusia. Warga kami ada 6,3 juta. Sekarang yang sudah kena ISPA 70 ribu orang," sambungnya.
Belum lagi, kata Doni, dari aspek pendidikan. Akibat kabut asap yang masive, banyak anak sekolah yang diliburkan. Meski pihak sekolah memberi materi untuk belajar di rumah, menurutnya kegiatan belajar mengajar jadi tidak optimal.
"Anak-anak sekolah diliburkan. Anak-anak bisa bodoh ini. Belum asap yang kita peroleh kan. Dinas pendidikan memang ngasih materi karena libur, tapi nggak optimal. Kadang masuk pagi, begitu tebal lalu dipulangkan. Hari ini saja diliburkan," tutur Doni.
Untuk para pelaku pembakar lahan, diakui Doni memang sudah ada yang ditetapkan sebagai tersangka. Namun menurutnya, itu tidak cukup mengingat korban jiwa pun terus berjatuhan akibat pembakaran lahan.
"Memang sudah ada yang ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda. Harus berapa orang yang kita jadikan tersangka baru mereka jera? Di Riau 2 anak-anak meninggal, tunggu berapa lagi?" tukas Doni kesal.
Bantuan sendiri di Riau disebutnya masih kurang. Namun terlepas dari itu, Doni pun mewakili Pemda Riau mengucapkan terimakasih kepada pemerintah pusat.
"Bantuan logistik seperti masker masih sangat kurang. Tapi kami ucapkan terimakasih kepada BNPB, BPPT karena telah membantu. Kami sendiri koordinasi dengan BNPB dan LHK sudah luar biasa, setiap saat," katanya.
Sementara itu Kepala BMKG Andi Eka Sakya yang juga hadir dalam diskusi mengatakan, bencana El Nino menjadi salah satu faktor sulitnya mengatasai kebakaran lahan dan kabut asap. Apalagi karena wilayaj Indonesia yang luas.
"Harus mempertimbangkan perubahan cuaca. Indonesia juga memang sulit karena sangat besar luasnya, seperti 22 negara di Eropa," terang Andi.
Pencegahan menjadi faktor penting meski sebenarnya infrastruktur Indonesia sendiri belum siap. Untuk itu diharapkan agar Indonesia semakin mengedepankan kesiapan dalam menghadapi bencana.
"Kita belum siap. Satelit masih bergantung pada Jepang, Singapura bahkan China. Pengolahan kami baru 12 jam sekali, jadi yang saya pakai adalah jam 7 malam. Harapan kita kalau 3 jam sekali (update) perlu ada super komputer. Kedapan harusnya punya sehingga bisa dimanfaatkan," beber Andi.
Tak hanya persiapan infrastruktur, kesiapan warga menghadapi bencana dinilai Andi masih kurang. Padahal itu cukup penting.
"Masyarakat penting meningkatkan literasi tentang kebencanaan. banyak informasi-informasi seperti kualitas udara kita displaykan termasuk di bandara-bandara," tukasnya.
"Tapi itu tadi literasi mengenai cuaca dan iklim masih rendah, kurangnya sense. Jadi sering diabaikan. Sehingga menurut saya edukasi tentang ini kepada masyarakat akan sangat bagus sekali," pungkas Andi.
(elz/jor)











































