Seperti misalnya di pinggir jalan di kawasan Lenteng Agung, Jaksel menuju Depok. Dahulu di masa booming batu akik terjadi, pedagang batu berjejer. Pembelinya pun tumplek, memarkir motor di sepanjang jalan.
Hampir satu tahun, bisnis batu akik pinggir jalan menjadi primadona. Tapi itu dahulu, pada Selasa (20/10) malam lapak-lapak itu sudah berkurang drastis. Biasanya belasan lapak berjejer, kini hanya satu dua saja, itu juga sepi pembeli.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah lebaran lalu sudah turun drastis pembelinya. Sekarang cuma ngandelin langganan saja," terang Imron, pedagang batu akik di dekat jembatan layang Cibinong.
Di masa jaya, selama setahun lebih Imron bisa meraup untung besar dalam semalam. Bahkan dia bisa memiliki 3 anak buah. Kini hanya dia dan istrinya saja yang menangani bisnis poles batu akik.
Bukan hanya di lapak saja. Urusan booming batu akik yang melanda sampai ke penjualan online juga sami mawon alias sama saja. Aping, yang membuka toko penjualan online dengan memasang jualan di toko-toko online dan forum jual beli juga menegaskan penurunan omzet signifikan.
Dahulu di masa booming, seminggu uang jutaan bisa di tangan. Kini hanya di saat tertentu saja, misalnya kalau dia menawarkan barang batu berkualitas seperti batu bacan atau batu hijau Garut.
"Batu-batu biasa sekarang sudah tidak dilirik. Setelah lebaran menurun, jauh," imbuh Aping.
![]() |
Tapi baik Imron maupun Aping mengaku tetap berharap batu akik terus berkembang. Batu ini menggairahkan ekonomi mereka dan banyak pihak lainnya. Imron masih ingat di masa booming awal, dia bahkan bisa memoles sampai subuh. Pelanggan datang terus tidak putus-putus.
"Bagaimana caranya supaya bisa ramai lagi ya? Tapi saya yakin, bisnis batu ini nggak akan mati. Batu ini kan terbatas bahannya, nanti orang juga suka lagi," harapnya.
Bagaimana menurut Anda pecinta akik? (dra/dra)












































