"Kita menghargai pendapat teman-teman di Muhammadiyah. Mudah-mudahan teman-teman yang tidak setuju tetap mendukung," kata Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin dalam jumpa pers di kantor Kementerian Agama, Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2015).
Ia menegaskan bahwa peringatan Hari Santri Nasional ini tidak berafiliasi dengan kelompok atau organisasi tertentu. Meski begitu, ia menghargai penolakan Muhammadiyah yang menilai penetapan Hari Santri Nasional ini belum penting.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sudah ketemu dengan Ketum Muhammadiyah kebetulan perspektifnya beda. Beliau menganggap tidak perlu. Itu perbedaan yang tidak mungkin semuanya sama. Yang jelas Hari Santri ini tidak terafiliasi dengan kelompok tertentu," terangnya.
Kamaruddin menjelaskan bahwa penetapan Hari Santri ini penting melihat peran santri dalam proses perjuangan bangsa Indonesia. Ia merujuk pada sejarah saat Hasyim Asy'ari mengeluarkan resolusi jihad yang mewajibkan umat Islam untuk berjihad melawan penjajah.
"Resolusi ini berhasil memberi energi dan semangat patriotisme pada umat Islam saat itu. Penetapan tanggal ini tidak mengurangi nilai patriotisme dan heroisme tokoh-tokoh lain," sambungnya.
Menurutnya, santri adalah seorang pelajar yang memiliki nasionalisme dan tidak eksklusif. Ia merujuk nama-nama Kyai besar seperti Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), Hasyim Asy'ari (NU), A. Hassan (PERSIS) dan beberapa kiyai besar lainnya adalah 'maha santri' yang sangat nasionalis.
Dalam satu kesempatan, Ketua Muhammadiyah Haedar Nashir menilai Hari Santri Nasional ini justru mengkategorikan kalangan umat Islam.
Namun, anggapan itu ditepis oleh Kementerian Agama. Pemerintah sendiri secara resmi akan mendeklarasikan Hari Santri Nasional ini pada 22 Oktober di masjid Istiqlal. Sejumlah organisasi Islam, menteri dan duta besar negara Islam dan sahabat juga akan menghadiri acara ini. (bil/dra)











































