"Jadi pertama pertama bahasa yang digunakan teman-taman media, jangan gunakan bahasa perusuh. Karena yang terjadi bukan kerusuhan. Kita kan tahu di Jakarta tidak ada kerusuhan selama pertandingan bola ini," kata Irjen Tito kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (19/10/2015).
Menurutnya, kericuhan yang terjadi di beberapa lokasi itu adalah insiden kecil. "Yang ada memang beberapa insden kecil seperti pelemparan. Kalau rusuh kan melibatkan massa besar, ini kan nggak ada. Yang ada beberapa insiden kecil seperti pelemparan di Tol Jagorawi. Tadi malam ada satu. Dua malam sebelumnya juga ada beberapa bus yang dilempar," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya lagi, Jakmania tidak seperti organisasi hirarki dengan disiplin tinggi dan tergantung pada aturan kode etik seperti organisasi TNI/Polri. "Mereka organisasi lepas dan massa nya pun lepas. Sehingga belum tentu yang terlibat mereka adalah anggota Jakmania," imbuhnya.
Sementara pihaknya menyesalkan penindakan tegas harus diambil aparat polisi. Tetapi, tindakan tegas itu semata-mata dilakukan untuk mencegah agar kericuhan tidak semakin meluas dan menimbulkan gangguan Kamtibmas yang lebih nyata.
"Kemarin langkah kita disebut represif untuk preventif. Kita anggap perlu dilakukan dengan sangat menyesal untuk melakukan tugas kepolisian untuk menjaga keamanan dan ketertiban umum, kambtimas, public order. Nah jadi dalam menjaga ketetiban publik Polri berwenang menilai situasi," katanya.
Malam tadi dan malam-malam sebelumnya, polisi menilai tindakan yang dilakukan para pelaku berpotensi menimbulkan kerawanan. "Nah, kalau dianggap rawan mengganggu ketertiban publik, maka dapat dilakukan langkah diskresi," cetusnya.
"Kita melihat beberapa kerumunan, anggota kita berpakaian preman masuk, mereka dianggap berpotensi mengganggu, mereka menyimpan batu dan menyimpan barang berbahaya di kantong atau tas mereka. Setelah itu baru dilakukan langkah mengamankan mereka," katanya lagi.
Akan sangat berbahaya jika polisi tidak mengamankan kelompok-kelompok yang berpotensi itu. Mengingat sejarah hubungan suporter Persib dan Persija yang tidak harmonis, sehingga polisi mengambil langkah pencegahan dengan melakukan penjaringan dan penangkapan.
"Kalau dibiarkan bisa gangguan ke suporter dan masyrakat di GBK. Apalagi kita tahu ada hubunhan tidak harmonis antara Bobotoh dan Jakmania. Tentu dari Polri melakukan penilaian sendiri dan melalukan langkah represif untum preventif. Selain itu ada represif untuk justisi, misal pelempar batu dan pembawa sajam. Kalau memiliki bukti seperti sajam, molotov, kita akan lakukan penegakkan hukum. Kita tindak tegas berupa proses hukum, termasuk penahanan," paparnya.
Dari ribuang orang yang ditangkap di berbagai lokasi, polisi menahan 39 orang. Mereka ditahan karena kedapatan membawa barang bukti seperti senjata tajam, bom molotov dan narkoba. (mei/dra)











































