Ini Penjelasan Mendikbud Soal Perkembangan Evaluasi Kurikulum 2013

Ini Penjelasan Mendikbud Soal Perkembangan Evaluasi Kurikulum 2013

Muhammad Iqbal - detikNews
Senin, 19 Okt 2015 13:00 WIB
Ini Penjelasan Mendikbud Soal Perkembangan Evaluasi Kurikulum 2013
Foto: M Iqbal/detikcom
Jakarta - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah lama menghentikan Kurikulum 2013 dan saat ini masih dalam tahap evaluasi, atau penyusunan kurikulum yang lebih baik.

"Secara umum kita ingin dokumen kurikulum selesai akhir tahun ini. Prinsipnya, secara umum jangan terlalu terikat dengan nama dan tahun, makanya kita sebut kurikulum ke depan ada lapisnya, kurikulum nasional yang sifatnya ramping," ucap Anies Baswedan dalam paparan setahun kinerja Kemendikbud di kantornya, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (19/10/2015).

Anies mengatakan dalam kurikulum 2013 yang sedang disempurnakan itu akan lebih memberi ruang pada keberagaman di mana ada kurikulum daerah. Jadi kurikulum hasil evaluasi ini bisa diterapkan di semua daerah secara leluasa oleh guru-guru.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Banyak yang diubah, di kompetensi dasarnya dikembangkan," ujarnya.

Menurut Anies, penyusunan kurikulum itu menyangkut 3 hal yaitu ide, design dan dokumen untuk implentasi kurikulum. Pada kurikulum 2013 yang diputuskan dihentikan Kemendikbud itu idenya sudah baik, tapi design dan dokumennya perlu diperbaiki.

"Perlu waktu, karena mengubah kurikulum beda dengan mengubah channel radio atau televisi," terang Anies soal lamanya evaluasi kurikulum.

Anies membantah dengan dihentikannya kurikulum 2013, ada dualisme kurikulum yang diterapkan di sekolah. Menurutnya, yang terjadi adalah proses transisi, di mana ada beberapa sekolah yang menerapkan kurikulum 2013 untuk uji coba dan lainnya tidak.

Masa transisi perubahan kurikulum ini pernah juga terjadi pada tahun 2006, di mana saat itu evaluasi kurikulum berlangsung selama 4 tahun. Sehingga baru pada tahun ajaran 2010-2011 bisa diterapkan kurikulum yang lebih baik.

"Nah, kenapa sekarang muncul pandangan dualisme, karena ada 3 persen sekolah yang jadi sekolah ujicoba. Padahal selalu di mana-mana ada sekolah tempat uji coba. Kita ingin proses ini mengejarnya kualitas, bukan deadline waktu," lanjut mantan Rektor Universitas Paramadina itu.

Proses penyempurnaan design dan dokumen kurikulum itu masih dilakukan tim Kemendikbud. Diharapkan jika sudah selesai, bisa diterapkan di semua sekolah dengan target seluruh guru mendapat pelatihan, bukan sebagian.

"Kita sebut ada 6 persen yang terapkan (kurikulum hasil evaluasi). Tiap sekolah jadi pilot untuk 4-5 sekolah lain. Jadi guru-guru belajar dari sana (dari sekolah yang lebih dulu dapat pelatihan -red)," tutur Anies.

"Jadi tahun kedua sudah dapat 25 persen, tahun ketiga kalau satu sekolah dulu 75 persen dan tahun ketiga 100 persen. Jadi pelatihannya bukan guru dilatih, tapi whole school training istilahnya. Jadi satu sekolah sama-sama terapkan kurikulum baru," imbuh inisiator Indonesia Mengajar itu. (miq/aan)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads