"Tadi saya ambil foto pukul 07.00, ini begitu tebal. Sampai mobil putih tidak terlihat. Mesti membunyikan klakson," kata Dedi warga Sampit yang mengirimkan foto ke pasangmata.com, Senin (19/10/2015).
Menurut Dedi, sudah sebulan lebih ini asap menyelimuti kota. Pagi tebal, siang mereda, dan malam kembali tebal.
"Sesak pak nafas kalau nggak pakai masker," terang Dedi. Aktivitas masih normal, para pelajar tetap masuk sekolah.
Menurut dia, asap datang karena ulah-ulah individu yang tidak bertanggung jawab yang melakukan pembakaran lahan di perkebunan dan hutan.
"Ini setiap tahun seperti ini, menunggu hujan saja agar reda. Karena akses air untuk pemadaman itu sulit, yang terbakar jauh di dalam hutan," urai dia. (rni/dra)











































