Indonesia Menutup FBF 2015 dengan Haru dan Semangat Baru

Laporan dari Frankfurt Book Fair 2015

Indonesia Menutup FBF 2015 dengan Haru dan Semangat Baru

Rachmadin Ismail - detikNews
Senin, 19 Okt 2015 07:02 WIB
Indonesia Menutup FBF 2015 dengan Haru dan Semangat Baru
Komite Nasional, Indonesia sebagai Tamu Kehormatan pada Frankfurt Book Fair2015
Franfurt - Berakhir sudah gelaran Frankfurt Book Fair 2015 dengan Indonesia sebagai tamu kehormatan. Banyak dampak langsung maupun tidak langsung yang dirasakan usai acara, mulai dari penjualan hak cipta sampai menumbuhkan semangat baru di dalam negeri.

Sejak dibuka awal pekan lalu tepatnya 13 Oktober 2015, Indonesia dianggap menjadi tamu kehormatan yang paling baik selama beberapa tahun terakhir. Mendikbud Anies Baswedan menyebut, hal ini terjadi karena Indonesia mampu bekerjasama dengan pihak Jerman dengan baik. Mulai dari urusan konsep acara sampai hal-hal teknis lainnya.

Goenawan Muhammad saat di FBF

Hari Minggu (18/10/2015), acara pameran buku terbesar di dunia ini selesai. Acara penutupan ditandai dengan serah terima tongkat estafet tamu kehormatan dari Indonesia ke Belanda yang ditunjuk sebagai guest of honour tahun depan. Acara serah terima digelar di paviliun utama dan diisi dengan berbagai pertunjukkan dari pihak Belanda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelum acara tersebut, sempat digelar diskusi bersama mantan presiden BJ Habibie dan tokoh agama asal Jerman yang kini sudah jadi WNI Franz Magnis Suseno. Keduanya bicara dalam bahasa Jerman soal kondisi Indonesia terkini dan sejumlah problem di masa lalu, sejak zaman Soekarno sampai Suharto. Acara diskusi dipadati oleh masyarakat dari berbagai kalangan.

Habibie dalam diskusi tersebut mengatakan 100 persen yakin bahwa Indonesia bakal lebih baik ke depan. Dia melihat ada potensi dalam generasi muda, asal didukung oleh pemerintah dengan menciptakan perekonomian yang baik, sehingga menumbuhkan lapangan kerja.

Di sela-sela acara tersebut, ada juga pertunjukkan di arena panggung terbuka FBF 2015. Di sana, ditampilkan para penari-penari Indonesia. Mereka menari di tempat terbuka dalam cuaca yang dingin namun tetap semangat. Tampil dalam kesempatan tersebu adalah Pagelu, tari persembahan selamat datang dari Sulawesi oleh grup tari Wiwiek Sipala. Lalu tampil pula medley tari-tarian Betawi, Sunda, Batak, dan ditutup dengan penampilan tari Topeng Losari.

Selain itu, ada juga kelompok musik Rafli Kande dari Aceh. Lagunya tentang kegelisahan mengenai lingkungan alam yang semakin rusak, lagu-lagu yang mengapresiasi karakter masyarakat Aceh yang pekerja keras, kontemplasi diri, nada-nada yang mengagungkan nilai nilai Islam. Kehadirannya sangat dinanti publik Jerman.

Dua malam sebelumnya digelar juga pertunjukkan 'Gandari' dari puisi karya Goenawan Mohamad ditampilkan di Frankfurt LAB Schmidtstraße 12 60326 Frankfurt am Main, 16-17 Oktober 2015. Dikomposeri oleh Tony Prabowo dan dikoreografi oleh Wen Chie.

Orang-orang Baik di Balik Indonesia
BJ Habibie saat di Frankfurt Book Fair


Ketua Komite Nasional Indonesia untuk FBF 2015, Goenawan Muhammad, mengaku lega usai acara. Namun dia juga merasa ada yang hilang setelah acara tersebut selesai. Bagi Goenawan, kegiatan tersebut sudah menunjukkan bahwa masih ada orang-orang baik di Indonesia yang mau berkorban dan ikhlas bekerja untuk kepentingan umum.

"Mereka mampu bekerja dengan imajinasi, kreatifitas dan humor. Saya dan beberapa rekan selalu bertengkar namun selalu berakhir dengan humor," cerita Goenawan di balik proses persiapan sampai pelaksanaan hari H acara.

Sambil menangis haru, Goenawan mengatakan semua rekan-rekannya di komite sudah bekerja dengan kearifan tinggi. Mereka ikhlas berkorban, bahkan ada yang harus merogoh kocek sendiri, demi menjaga nama baik Indonesia di dunia internasional.

"Mereka nggak mau bikin Indonesia malu," imbuhnya.

Menurut pria berusia 74 tahun tersebut, tujuan besar Indonesia di FBF 2015 ini tercapai. Niat untuk menjual hak cipta, bukan lagi fokus membeli hak cipta orang lain, sudah terlaksana. Terbukti, ada beberapa karya-karya penulis Tanah Air yang diminati penerbit asing.

Bila karya-karya Indonesia bisa laku dijual hak ciptanya di luar negeri, maka hal tersebut bisa mendorong tumbuhnya karya-karya lain yang berkualitas baik. Setelah itu, diharapkan juga bisa mendorong peningkatan kualitas sastra dan minat baca masyarakat, terutama generasi muda.

Data terakhir tim komite, ada sekitar 500 karya penulis Indonesia yang diminati penerbit asing. Karya tersebut seputar sastra, buku anak-anak, kuliner dan komik. Tak hanya itu, ilustrator dari Indonesia juga banyak yang ingin diajak kerja sama.

"Merangsang lebih banyak penjualan hak cipta, lalu merangsang penulis menulis buku berkualitas, sehingga makin banyak orang baca," imbuh Goenawan.

Strategi Melibatkan Orang Jerman
pertunjukan seni Indonesia di Frankfurt Book Fair


Pihak Jerman memuji Indonesia sebagai tamu yang paling baik dalam urusan kerjasama. Goenawan menyebut, hal itu memang menjadi bagian dari strateginya. Para tokoh di Jerman mulai dari kurator sampai relawan dilibatkan. Tak heran, ada beberapa proyek yang tidak mengeluarkan biaya sama sekali karena hubungan baik tadi.

"Kami tidak menyewa Kuntsverein (lokasi pameran seni rupa), kami tidak menyewa. Tarian semalam Gandari, itu tidak nyewa, kerjasama," terangnya.

Dengan anggaran Rp 150 miliar dan proses birokrasi yang berbelit, menurut Goenawan, pihaknya memang harus memutar otak lebih keras untuk mensukseskan acara tersebut. Tak jarang ada yang harus mengeluarkan uang pribadi, mencari bantuan pihak lain, sampai mengajukan dana ke berbagai perusahaan Indonesia. Namun tak semua merespons sesuai harapan.

"Kadang-kadang nombok dulu, turunnya belakangan. Public relation kita berapa bulan nggak dibayar. Untung pada sabar," imbuhnya.

"Orang-orang swasta bisnis tidak membantu kecuali orang pribadi yang saya kenal. CSR itu omong kosong," kesalnya.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Berlin Agus Rubiyanto mengatakan, ada 50 relawan yang didominasi oleh WN Jerman atau mahasiswa asing yang bisa berbahasa Indonesia terlibat dalam acara tersebut. Mereka dibayar untuk membantu kelancaran teknis acara.

detikcom berjumpa dengan bule-bule yang cas cis cus berbahasa Indonesia seperti Tao, Chris, Ana dan Daniel, mereka rata-rata pernah ke Indonesia, dan mampu bekerja dengan baik sebagai relawan. "Sejauh ini tak ada komplain kan?" kata Agus.

Mereka dipilih sengaja untuk menciptakan suasana diplomasi baru, yakni orang Jerman yang menjelaskan tentang Indonesia. Supaya tentu saja membuat daya tariknya lebih kuat. Selain itu, para pemuda-pemuda tersebut adalah calon pemimpin di Jerman. Bila mereka sudah dekat dengan Indonesia, maka dalam masa depan hubungan Jerman dan Indonesia akan lebih baik lagi.

"Sejauh ini, adda 300 pemberitaan tentang indonesia di media Jerman. Bahkan hari ketiga tanggal 16 ada media besar yang menulis tentang warna warni Indonesia atau Farbe von Indonesian," terang Agus seraya menegaskan ada perbedaan besar tamu kehormatan tahun lalu dan sekarang.

Ditutup dengan Angka
Serah terima tamu kehormatan Indonesia-Belanda


Laporan panitia mencatat, ada 275 ribu pengunjung Frankfurt Book Fair 2015. Itu artinya meningkat jumlahnya 2 persen dibandingkan tahun lalu. Jumlah jurnalis peliput pun meningkat, dari 9.300 orang tahun 2014 jadi 9.600 orang di 2015

Untuk pengunjung ke paviliun Indonesia, panitia memperkirakan angkanya mencapai ribuan. Sebagai gambaran, ada 800 orang yang masuk penuh sesak ke arena paviliun ketika pembukaan. Setelah itu, jumlahnya semakin banyak setiap hari.

Frankfurt Book Fair 2015 dihadiri 7.100 peserta pameran dari 100 negara. Ada 4.000 acara di dalamnya. Tak hanya buku, di dalamnya juga ada pertunjukkan film dan games.Β  Khusus film Indonesia, ada beberapa yang ditayangkan di Franfurt, seperti Cahaya dari Timur: beta Maluku, Berbagi Suami, The Raid, dan film-film top Indonesia lainnya. (mad/jor)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads