DetikNews
Minggu 18 Oktober 2015, 14:46 WIB

Laporan Dari Frankfurt Book Fair 2015

Andrea Hirata di Frankfurt, 2 Meter Dari Pemenang Nobel Sastra

Rachmadin Ismail - detikNews
Andrea Hirata di Frankfurt, 2 Meter Dari Pemenang Nobel Sastra Foto: Rachmadin Ismail/detikcom
Frankfurt - Di stan penerbit terkemuka Jerman, Hanser, buku Andrea Hirata 'die Regenbogentruppe' dan 'der Traumer', berada tak jauh posisinya dari pajangan buku Svetlana Alexievich, sang pemenang nobel sastra 2015 dari Belarus. Sebuah gambaran menarik dan membanggakan tentang posisi Andrea di kancah sastra dunia.

"Bayangkan, tidak jauh dari sana ada pemenang nobel, saya kurang dari 2 meter ada pemenang Nobel," kata Andrea membuka pembicaraan sambil tersenyum saat ditemui detikcom di stan tersebut, Jumat (16/10/2015).

Dua buku Andrea tadi berjudul di Indonesia Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Keduanya adalah bagian dari tetralogi Laskar Pelangi yang sudah menghebohkan Indonesia dan kini mengguncang dunia.
Andrea dan buku-buku di Frankfurt Book Fair (Rachmadin Ismail/detikcom)

Buku Laskar Pelangi sudah diterbitkan di lebih dari 130 negara dan diterjemahkan ke dalam 34 bahasa. Mulai dari Portugal, Turki, Italia sampai yang terbaru Bulgaria. Dalam waktu dekat, akan menyusul edisi Ukraina, Ethiopia, Kenya, Myanmar sampai Kroasia. Penjualan bukunya diprediksi sudah mencapai angka jutaan kopi di seluruh dunia.

Penerbitnya pun bukan dari perusahaan sembarangan. Mereka adalah nama-nama terkenal seperti Penguin (India), Harper Collins (Kanada), Rizolli (Italia), Edicione Planeta Madrid (Spanyol), FSG (Amerika Serikat) dan tentu saja Hanser Berlin (Jerman).

Khusus di Jerman, tepatnya ajang Frankfurt Book Fair 2015, agenda pria asal Pulau Belitung itu sangat padat. Dia menghadiri berbagai undangan wawancara media setempat, diskusi dan jumpa dengan para penggemarnya. Di paviliun Indonesia, Andrea sempat bicara bersama Ahmad Fuadi penulis novel 'Negeri 5 Menara' tentang tulisan mereka dan dunia pendidikan di Indonesia.

Kepada detikcom, Andrea berbagi soal perjalanannya menembus pasar dunia dalam urusan penjualan buku. Dia berharap ini bisa menginspirasi penulis-penulis di Indonesia agar memahami sebenarnya peta dunia perbukuan yang ada saat ini.

"Pertama-tama tulislah buku yang baik, itu yang paling penting dan paling utama," terangnya.

Buku yang baik itu kata Andrea bisa dilihat bagaimana seorang penulis menempatkan ide dalam sebuah konteks dan meletakkan konteks dalam sebuah perspektif, lalu balik lagi ke dalam konteks menjadi sebuah ide. Seorang pembaca, nantinya harus bisa terhubung dalam konteks tersebut dan mengaitkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tulisan yang baik juga harus memiliki cara bercerita yang kuat, tidak merumitkan pembaca, berkarakter dan memiliki teknik story telling yang seimbang.

"Pondasi pemikiran puitiknya dan kekuatan dari kata-kata untuk relate kepada personal experience dari pembaca," terangnya.

Kedua, setelah membuat buku yang baik, maka untuk menembus pasar internasional, carilah penerjemah yang baik. Andrea berkisah, untuk urusan buku Laskar Pelangi, banyak yang bilang bukunya tidak layak diterjemahkan. Namun pria berambut ikal itu bersikeras melakukannya.

Proses penerjemahan buku Laskar Pelangi ke dalam bahasa Inggris tidak mudah. Dia sempat menolak tiga penerjemahan yang dilakukan orang Indonesia, sampai akhirnya dia menemukan sosok Angie Kilbane penerjemah dari Ohio, Amerika Serikat.

"Itu diterjemahkan dengan susah payah. Tapi akhirnya saya suka," ungkapnya.

Setelah penerjemahan selesai, maka yang harus dilakukan penulis adalah menemukan agen literatur yang terkemuka dan berkualitas. Andrea menyarankan agar penulis mencari ke New York untuk melakukannya.

"Utamakan New York. Di sana kiblat buku dunia," imbuhnya.

Andrea saat ini dipegang oleh agen literatur terkemuka di New York, Kathleen Anderson Literary Management. Manajemen itu banyak menangani penulis-penulis terkemuka dunia dari berbagai tema penulisan. Lalu, bagaimana caranya Andrea bisa dikontrak oleh agen tersebut?

"Saya akan diundang ke Amerika dapat beasiswa untuk belajar sastra. Lalu saya harus mengirim terjemahan yang bagus. Saya ngangguk aja karena sudah diterjemahkan Angie. Begitu di Amerika saya diundang ke NYC ketemu Kathleen Anderson," ceritanya.

Dari perkenalan itu, karier dunia Andrea dimulai. Sejak dipegang oleh agen, lalu diterbitkan di New York, penerbit-penerbit besar dunia langsung melirik buku Andrea. Salah satunya adalah Hanser Berlin.

Di Jerman, buku Andrea Laskar Pelangi sudah diterbitkan sejak tiga tahun lalu. Dimulai dengan edisi hard cover, kini sudah ada edisi biasa. Yang terbaru tentu saja buku der Traumer terjemahan dari Sang Pemimpi. Pihak penerbit menyebut, bukunya sudah jadi best seller dan diprediksi akan terus bertambah.

"Laskar Pelangi sangat sukses dan bagus. Kami menjual beberapa puluh ribu kopi. Orang Jerman menganggap ini adalah inspirasi dan ada pesan positif tentang pendidikan," kata Thomas Rohde, perwakilan dari Hanser untuk urusan media kepada detikcom.

Thomas menambahkan, buku Andrea diterjemahkan dengan baik ke dalam bahasa Jerman oleh Dr Peter Sternagel yang pernah bekerja lama di Goethe Institute di Indonesia. Buku itu tidak hanya diterjemahkan secara bahasa, namun konteksnya juga disesuaikan dengan kondisi Indonesia dan pembaca Jerman. Buku Andrea kini digunakan sebagai bahan referensi sejumlah lembaga pendidikan anak di Jerman.

Menurut Thomas, tidak mudah sebuah buku diterbitkan oleh perusahaannya. Itu harus melalui rangkaian seleksi yang sangat ketat. Mereka hanya menerbitkan 20 buku selama setahun dari berbagai belahan dunia. Maka itu tak heran, hanya penulis-penulis handal saja yang terpilih, sebagian di antaranya bahkan meraih hadiah nobel sastra seperti Svetlana Alexievich dan nama-nama lainnya.

"Sangat banyak penulis novel kami mendapatkan novel. Saya harap mudah-mudahan Andrea juga," ucapnya sambil tersenyum.
(mad/bag)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed