Diskusi Paling Ramai dan Hangat di Paviliun Indonesia

Laporan dari Frankfurt Book Fair 2015

Diskusi Paling Ramai dan Hangat di Paviliun Indonesia

Rachmadin Ismail - detikNews
Minggu, 18 Okt 2015 13:52 WIB
Diskusi Paling Ramai dan Hangat di Paviliun Indonesia
Foto: Komite Nasional, Indonesia sebagai Tamu Kehormatan pada Frankfurt Book Fair 2015
Jakarta - Laksmi Pamuntjak dan Leila S Chudori, dua penulis novel berlatar tragedi tahun 1965 menarik perhatian pengunjung Frankfurt Book Fair 2015 yang datang ke paviliun Indonesia. Diskusi yang dihadiri keduanya menjadi acara paling ramai dan hangat di paviliun selama pameran.

Laksmi adalah seorang penulis cantik yang menerbitkan novel berjudul 'Amba'. Novel itu terbit pada Oktober 2012 dan pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris, baru setelahnya edisi Indonesia. Kini, Amba sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dengan nama 'Alle Farben Rot' dan menjadi karya fiksi terbaik 2015 dari luar yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman (WeltempfΓ€nger litprom-Bestenliste).
Foto: Komite Nasional, Indonesia sebagai Tamu Kehormatan pada Frankfurt Book Fair 2015

Dalam diskusi, Lakmsi bercerita, novelnya berisi tentang suara-suara orang termarjinalkan hanya karena terkait dan berstatus sebagai tahanan politik tahun 1965. Walau tidak punya pengalaman langsung saat peristiwa terjadi, Laksmi bercerita mengenal orang-orang yang kena imbas dari kejadian itu. Salah satunya, guru yang tiba-tiba kehilangan pekerjaan hanya karena dosa komunal, bukan karena kualitasnya.

"Bagaimana kita memanggil ulang ingatan kolektif. Agar kemarahan ini tidak terulang lagi," ungkapnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara Leila menulis novel 'Pulang' yang juga terbit pada tahun 2012 dan sudah diterbitkan dalam beberapa bahasa. Edisi Jermannya kini sudah tersedia dengan judul 'Heimkehr nach Jakarta'.

Leila mengungkapkan, novelnya berawal dari tradisi menulis kisah tahun 1965 setiap bulan September di Majalah Tempo. Setelah mewawancarai banyak orang dan berinteraksi dengan rekan-rekannya yang menjadi korban turunan tragedi tersebut, dia akhirnya memutuskan untuk menulis novel.

"Saat ini ada beberapa opsi (penyelesaian masalah tahun 1965). Bisa langsung rekonsiliasi, atau investigasi dulu, dan peradilan baru rekonsiliasi. Ini masih terjadi debat di antara para elite. Tapi saya secara optimistis, ini adalah bagian dari proses debat," jelasnya soal solusi bagi permasalahan kelam bangsa tersebut.
Suasana tanya jawab saat diskusi (Foto: Komite Nasional, Indonesia sebagai Tamu Kehormatan pada Frankfurt Book Fair 2015)

Diskusi yang digelar di Island of Scenes Paviliun Indonesia ini cukup padat dihadiri pengunjung. Ada kalangan masyarakat Jerman, ada WNI yang tinggal di Jerman, ada juga warga Jerman yang punya ketertarikan khusus terhadap isu 65 di Indonesia.

Bisa dibilang, ini adalah diskusi yang paling ramai dikunjungi selama pameran berlangsung. Selain karena digelar saat jadwal pemeran untuk publik, diskusi ini juga mengusung tema yang menarik bagi masyarakat Jerman. Ada sekitar ratusan orang memenuhi kursi yang disediakan. Sebagian duduk di lantai, bahkan ada yang sampai harus naik ke balkon. Sisanya berdiri di sekitar arena utama.

Selain hangat karena ramai, pada saat sesi tanya jawab sempat terasa suasana emosional di antara para penonton. Ada yang sempat menangis, sebagian lagi meledak-ledak pada saat melontarkan pertanyaan.

Salah seorang penanya, sempat menyinggung insiden Tom Elijas, seorang WNI yang kini jadi WN Swedia saat hendak pulang ke Sumatera Barat, dideportasi karena dianggap masih berkaitan dengan isu masa lalu.
Foto: Komite Nasional, Indonesia sebagai Tamu Kehormatan pada Frankfurt Book Fair 2015

Lalu, ada yang menanyakan bagaimana efek tulisan tahun 1965 berdampak pada Laksmi dan Leila, khususnya karena mereka penulis perempuan. Juga ada seorang mahasiswa Indonesia di Jerman yang melontarkan kritik kepada penulis, kenapa tidak menulis isu keagamaan di Indonesia saja, karena dianggap lebih urgent dengan suasana terkini dibandingkan menguak masa lalu.

"Penulis soal kebebasan beragama di Indonesia sudah banyak, salah satunya Okky Madasari. Mungkin Anda belum membacanya," kata Leila merespons kritikan tersebut.

Namun yang paling menarik adalah ketika maestro sajak dan puisi Indonesia Taufiq Ismail menyampaikan pendapatnya soal isu tersebut. Dia membacakan puisi berjudul 'Merindukan Perdamaian Total', yang kemudian dilanjutkan dengan opininya soal kasus tersebut. Pria berkacamata itu berharap, kedua belah pihak mau rekonsiliasi, saling memaafkan dan melupakan secara total.

"Baiknya kita sekarang saling bermaaf-maafan. Indonesia dalam keadaan miskin, korup, kemudian pembangunan banyak terhenti akibat pertengkaran seperti ini. Malaysia pernah 200 orang mati, lalu rekonsiliasi dan tidak ada lagi saling salah menyalahkan," kata Taufiq yang direspons beragam oleh beberapa penonton.

Pernyataan panjang Taufiq sempat dipotong oleh moderator karena waktu diskusi hampir habis. Namun oleh Slamet Rahardjo, sang penanggung jawab arena diberikan perpanjangan waktu untuk menyelesaikannya.

Diskusi ditutup dengan pernyataan Leila yang mengatakan perdamaian memang harus terjadi, namun dalam prosesnya harus melibatkan orang-orang yang pernah menjadi korban. "Agar tidak terulang lagi," ucapnya disambut tepuk tangan membahana. (mad/bag)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads