![]() |
Sejak dibuka pada Sabtu (17/10/2015) pagi, petugas tiket tak henti-hentinya menyalakan tanda pengenal barcode bagi mereka yang hendak masuk ke dalam arena. Cuaca dingin di Frankfurt yang menusuk tulang tak menghalangi mereka untuk berpesta buku. Sekadar informasi, tiket masuk ke dalam arena khusus hari Sabtu dan Minggu adalah 12 Euro, hari-hari sebelumnya 30 Euro.
Ada yang datang dari Jerman, Amerika Serikat, Prancis, Belanda dan Asia. Orang Tua, anak muda, anak-anak kecil, sampai kalangan penyandang disabilitas memiliki antusias yang sama.
![]() |
Yang menarik dan cukup unik adalah remaja-remaja di Jerman yang datang ke lokasi dengan kostum cosplay dan tokoh animasi dunia. Mereka berdandan habis-habisan ala tokoh animasi Jepang sampai Marvel, seperti Kapten Amerika dan lain-lainnya.
Ada juga yang berdandan ala gothic, dengan baju serba hitam, muka diolesi krim pemucat seperti mayat, dan berbagai make up yang memberi kesan seram lainnya. Sebagian pria bahkan ada yang nekat bertelanjang dada, padahal cuaca di bawah 10 derajat celcius.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Para WNI yang tinggal di Jerman pun berdatangan. Ada yang sudah menetap bertahun-tahun dan berkeluarga di Jerman, ada yang masih menempuh pendidikan, ada yang sengaja datang dari Indonesia untuk melihat pameran. Tahun ini, Indonesia sebagai tamu kehormatan sehingga memberikan banyak pilihan untuk pengunjung dalam melihat isi pameran.
Bagaimana dengan stan-stan Indonesia? Sejauh pantauan detikcom, juga penuh disesaki pengunjung. Mulai dari stan nasional di hall 4.0, pengunjung dari berbagai negara tak henti-hentinya memadati arena. Saat acara diskusi bertajuk Women in the City dengan pembicara Dewi Lestari dan Ika Natasha, sampai diskusi komik dengan pembicara Benny dan Mice, penontonnya meluber hingga ke lajur jalan.
Stan komik dan buku anak-anak Indonesia di hall 3.0 juga tak kalah ramai. Khusus buku anak, banyak yang tertarik untuk membeli buku yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
"Sejauh ini sudah ada 7 buku yang dijual. Mereka orang Jerman lebih suka cerita yang benar-benar khas Indonesia," kata Eva Y Nukman dari litara foundation yang berjaga di stan.
Untuk paviliun utama Indonesia tidak perlu lagi ditanya. Di sana, pengunjung datang silih berganti dan tentu saja dijadikan sebagai arena reuni bagi para WNI yang tinggal di seluruh Jerman atau Eropa. Setiap kali ada acara diskusi atau pertunjukkan, langsung ramai.
![]() |
Diskusi yang menghadirkan penulis Laksmi Pamuntjak dan Leila S Chudori sempat menyedot perhatian banyak orang karena cukup menarik membahas tema 'Tahun 65'. Setelah itu, ada juga arena bumbu dan rempah Indonesia yang membikin pengunjung penasaran. Belum lagi kesempatan untuk menjajal angklung sampai melihat manuskrip kuno Indonesia. Semua lengkap!
Paviliun dan stan Indonesia juga sempat didatangi seorang tokoh yang dihormati di Jerman dan Indonesia, BJ Habibie. Berbaju serba hitam tebal dan dikawal ketat, Habibie mengelilingi arena pameran sambil menyapa sejumlah masyarakat Indonesia.
Rencananya, hari Minggu (18/10) Habibie akan bicara dalam sebuah forum diskusi di arena pameran. Dia akan bicara sebagai penulis buku.
(mad/dra)















































