Ini Penjelasan Panitia Diklatsar yang Tewaskan 2 Mahasiswa UIN Sunan Ampel

Ini Penjelasan Panitia Diklatsar yang Tewaskan 2 Mahasiswa UIN Sunan Ampel

Muhammad Aminudin - detikNews
Minggu, 18 Okt 2015 11:29 WIB
Ini Penjelasan Panitia Diklatsar yang Tewaskan 2 Mahasiswa UIN Sunan Ampel
Foto: Keluarga Mahasiswa UIN Sunan Ampel (Muhammad Aminudin/detikcom)
Malang - Dua mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tewas saat mengikuti Pendidikan Latihan Dasar(Diklatsar) di Wana Wisata Sumuran RPH Rejosari, Dusun Bekur, Desa Sumberejo, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang.

Ketua Umum Diklatsar UIN Sunan Ampel Pramudya Nugraha Putra menuturkan, jika kegiatan ini merupakan uji lapangan bagi calon mahasiswa pecinta alam. Diklat tahunan ini diikuti sebanyak 19 mahasiswa, mereka sebelum bertolak sudah menjalani tes psikologi dan kesehatan terlebih dahulu.

"Tes kesehatan sudah, bahkan psikologi. Mereka yang ingin ikut sudah memang benar-benar siap," terangnya kepada wartawan, Minggu (18/10/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diceritakan oleh dia bahwa Diklatsar dimulai pada Rabu (13/10), pagi. Lokasi memang ditentukan layak sebagai uji lapang. Di sana ada beberapa materi yang harus dijalani, seperti panjat tebing, naik gunung sampai menyusuri gua.

Kondisi keduanya, kata dia, sudah diketahui drop mulai Jumat (16/10), tetapi kondisinya kembali pulih esok paginya. Namun, jadwal materi Repling pagi itu tidak diikuti kedua korban.

"Ya karena kondisinya belum pulih benar, mereka hanya melihat saja," sambung Pramudya.

Kemudian menjelang sore usai ishoma, korban laki-laki (Yudi,red) meminta kembali ke Pos Dapur Induk. Saat itu, para peserta tengah berada di Tebing Merdeka yang berjarak sekitar 15 menit. Bersama panitia dan peserta, korban pria (Yudi,red) diantar menuju dapur induk dengan berjalan kaki.

"Disana minta ijin minum obat dan kemudian tidur. Sekitar pukul 4 sore saat dibangunkan sudah meninggal," terangnya.

Selang beberapa lama, korban perempuan (Rahmawati,red) turut meminta kembali ke Pos induk. Karena kondisi lemas tidak dapat berjalan, panitia membawa dengan sepeda motor.

"Niat tujuannya ke pos induk, karena diketahui kondisinya drop. Langsung dibawa ke puskesmas, tetapi dalam perjalanan meninggal dunia," terang Pramudya.

Dia menegaskan, ada jeda waktu kedua korban diketahui meninggal. Sebelum kejadian, materi terakhir yang diikuti adalah susur gua dan itu dilakukan pada Jumat malam.

"Terakhir susur gua, dan kondisi korban drop," tegasnya.

Diungkapkan, jika dari hasil pemeriksaan awal sebelum mengikuti kegiatan. Ada kecenderung korban mengalami darah rendah, dokter pun meminta agar mereka banyak mengonsumsi sayuran.

"Katanya darah rendah, suruh banyak makan sayur," jelas dia.

Dijelaskan juga, jika ini merupakan kegiatan organisasi kemahasiswaan pecinta alam. Semua sudah dijalankan sesuai dengan peraturan yang dimiliki.

Seperti diberitakan, dua mahasiswa tewas saat mengikuti Diklat SAR di Wana Wisata Sumuran RPH Rejosari, Dusun Bekur, Desa Sumberejo, Kecamatan Pagak, Malang. Keduanya merupakan mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya.

Korban meninggal adalah Yudi Akbar Rizky (18), beralamatkan di Sukolilo Park Regensi Kav 1/16, Kota Surabaya, dan Lutfi Rahmawati (19), beralamatkan di Jalan Barata Jaya Kav 7/41, Kota Surabaya, sementara korban kritis adalah Nur Fadilah (19), beralamatkan di Jalan Bulak Banteng, Kota Surabaya.

Suparlan, paman Rahmawati menemukan adanya luka memar di bagian lutut kaki sebelah kanan keponakannya. Meski demikian, keluarga mengaku ikhlas dan ingin segera membawa pulang jenazah korban.

"Ada luka memar di bagian lutut, tapi ibunya menolak autopsi," ungkapnya kepada wartawan di kamar jenazah Rumah Sakit dr. Saiful Anwar (RSSA).

Temuan luka memar ini bukan tidak diketahui juga oleh aparat kepolisian. Untuk sementara polisi menduga kuat luka memar disebabkan, karena korban sempat jatuh sebelum ditemukan pingsan.

"Korban jatuh, dan kemudian pingsan. Mungkin itu menyebabkan luka memar di bagian lutut," ungkap Kasatreskrim Polres Malang AKP Adam Purbantoro kepada detikcom terpisah.

Adam mengaku, upaya penyelidikan terus akan dilakukan. Meski keluarga menolak untuk dilakukan autopsi. Visum luar didukung keterangan para saksi akan menjadi agenda polisi mengungkap penyebab kematian korban.

"Nanti kita panggil saksi-saksi, sementara kemarin masih fokus mengurus jenazah korban," ungkap Adam. (bag/bag)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads