Dalam acara diskusi bertajuk 'Sense and Sensuality' di paviliun Indonesia, Jumat (16/10/2015), Toeti bercerita soal 'ketikdaksengajaan' menulis sajak erotis. Bahkan awalnya dia tak sengaja menulis sajak-sajak yang dikenal publik selama ini.
"Dulu itu catatan pribadi numpuk agak banyak, lalu saya kirim ke majalah lalu dianggap sajak dan diterbitkan. Jadi terpaksa jadi penyair," ungkapnya yang disambut tawa hadirin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Toeti bercerita soal 'ketikdaksengajaan' menulis sajak erotis (Rachmadin/detikcom) |
"Senses juga akal sehat. Kehilangan akal sehat terbawa senses belaka, maka terkait dengan tubuh dan bermacam hal yang menyangkut tubuh," ceritanya.
Penulis sajak 'Dua Wanita' dan 'Siklus' ini menilai, isu sensualitas bukan hal yang tabu untuk disentuh dan dibicarakan. Dia merasa dalam membuat karya, harus membuat catatan yang sejujurnya, tidak munafik. "Kadang kita ini manusia jagoan kalau soal munafik," terangnya.
Dalam kesempatan diskusi yang sama, Sapardi mengatakan, apa yang ditulisnya dalam puisi tidak merefleksikan kehidupan pribadinya. Banyak hal yang dia sembunyikan lewat puisi. "Saya dirty old man," ucapnya.
Namun dia merasa, tak banyak karyanya yang bernada erotis. Hal yang paling mendekati itu adalah puisinya tentang hubungan manusia dengan Tuhan.
Pada kesempatan itu, Sapardi mengatakan dirinya adalah dirty old man (Rachmadin/detikcom) |
"Ini tentang hubungan antara Tuhan dan mahluk dan bagaimana mahluk bersatu dengan Tuhan," ungkapnya.
Sapardi dan Toeti kemudian membacakan puisi secara bergantian. Khusus Sapardi, dia membacakan sajak yang disebutnya sajak 'erotik' antara dirinya dengan Tuhan berjudul: Dalam Do'aku.
Di kesempatan terpisah, seperti dikutip dari rilis tim komite Book Fair, digelar juga diskusi soal sensualitas dengan pembicara Lily Yulianti Farid dan Ayu Utami. Ayu Utami, penulis novel "Saman" dan "Larung" mengungkapkan bahwa baginya menulis seksualitas bertujuan untuk memperluas batas-batas, karena selama ini seksualitas terlalu sering menjadi alat demonisasi.
"Saya baca kamus Poerwodarminto saat SMA di mana orgasme diartikan sebagai kemarahan. Juga kata 'Wanita Tuna Susila' waktu SMP, yang terkesan sopan tapi sesungguhnya penuh prasangka," tuturnya.
Ayu Utami menjadi pembicara dalam diskusi tersebut (dok. Komite Nasional, Indonesia sebagai Tamu Kehormatan pada Frankfurt Book Fair 2015) |
Lewat tokoh yang ia bangun dalam novelnya, Ayu ingin menjadikan sastra sebagai alat untuk mendobrak bias gender yang selama ini mengekang. Menurutnya, Shakuntala adalah karakter yang dimunculkan di tengah sistem patriarki yang sangat keras. "Shakuntala merupakan kritik saya untuk patriarkisme yang merugikan bukan hanya anak laki-laki tapi juga anak perempuan," ungkapnya.
Sementara Lily Yulianti Farid, perempuan asal Makassar yang menulis buku "Family Room", menjelaskan bahwa baginya seksualitas harus dibicarakan dangan santai dan setara, serta mulai membicarakannya tanpa semangat menghakimi lebih dulu. "Karya-karya yang ditulis itu berkontribusi besar menyumbangkan dorongan untuk memikirkan ulang berbagai situasi perempuan yang mayoritas dikendalikan oleh wacana laki-laki," lanjutnya.
Lily Yulianti, penulis buku 'Family Room' bicara di depan publik Jerman (dok. Komite Nasional, Indonesia sebagai Tamu Kehormatan pada Frankfurt Book Fair 2015) |
Sikap Lily ini didukung oleh kultur yang ia alami di tempat kelahirannya. "Kebudayaan kami di Sulawesi Selatan lebih kompleks dalam memandang seksualitas, tidak binarian dan hitam putih. Ada lima jenis gender, termasuk bissu--tradisi sastra lisan yang hidup di daerah Pangkep, yang dilakukan oleh sekelompok laki-laki yang mengenakan pakaian serta bersuara dan bertingkah seperti perempuan, yang membuat perspektif saya tidak gampangan menghakimi," ujarnya.
Kondisi ini, menurut Lily berbeda dengan kondisi yang terjadi di Indonesia pada umumnya, yang terlalu gampang menghakimi. Penghakiman sosial terjadi tak hanya di lingkungan tedekat, namun lebih luas, karena dilakukan juga lewat televisi dan media sosial.
"Sanksi sosial dan sikap prasangka kita terhadap banyak hal, harusnya digantikan oleh kehati-hatian untuk menyikapi isu-isu sensitif secara seksual. Yang terjadi masih berupa penghakiman sekelompok orang. Bagi saya dalam lingkaran Islam yang melakukan interpretasi, banyak juga perbedaan dan keragaman. Dan itu modal berharga kita menjadi Indonesia sampai hari ini," tuturnya. (mad/hri)











































Toeti bercerita soal 'ketikdaksengajaan' menulis sajak erotis (Rachmadin/detikcom)
Pada kesempatan itu, Sapardi mengatakan dirinya adalah dirty old man (Rachmadin/detikcom)
Ayu Utami menjadi pembicara dalam diskusi tersebut (dok. Komite Nasional, Indonesia sebagai Tamu Kehormatan pada Frankfurt Book Fair 2015)
Lily Yulianti, penulis buku 'Family Room' bicara di depan publik Jerman (dok. Komite Nasional, Indonesia sebagai Tamu Kehormatan pada Frankfurt Book Fair 2015)