Hal itu dia katakan saat ditemui di rumah dinas, Pendopo Bandung, Jalan Dalem Kaum, Sabtu (17/10/2015). Menurutnya tindakan anarkis malah membuat kondisi persepakbolaan di Indonesia makin terpuruk.
"Saya sangat prihatin, yang masuk ke saya bukan hanya Primajasa, tapi bus karyawisata pelajar dari Majalaya, mobil satu dua. Enggak usah kaya begitu lah. Sudah mah prestasi olahraga kita terpuruk, dihukum FIFA, terkenalnya kekerasan suporternya, malu," ujar pria yang akrab disapa Emil ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini kan orang-orang yang riweuh (bikin rusuh) itu yang alay, usianya tanggung, SMP-an. Segmen itu yang harus benar-benar diedukasi," kata Emil.
Ia mengaku sudah berpesan kepada bobotoh untuk mengurangi nyanyian, baju, dan spanduk yang provokasi. "Kita harus perlihatkan Bandung itu damai. Kita jangan menang menginjak kepala orang," tegasnya.
Emil juga meminta bobotoh untuk tidak terpancing dengan aksi perusakan. Polisi sudah menyatakan siaga satu di Jakarta. "Jadi tenang saja. Sudah. Jangan dikit-dikit kembali ke masa lalu, kalau itung-itungan terus dendam, enggak akan ada habisnya," ujar Emil. (err/try)











































