ADVERTISEMENT

Keriuhan Diplomat 8 Negara Bergaya Bak Chef saat Lomba Masak Sate Maranggi

M Aji Surya - detikNews
Jumat, 16 Okt 2015 16:12 WIB
Foto: M Aji Surya/detikcom
Jakarta - Sebanyak 21 peserta Sekolah Pimpinan Luar Negeri Kementerian Luar Negeri siang ini, Jumat (16/10/2015) mengikuti lomba memasak. Sebanyak 8 dari mereka adalah diplomat asing. Uniknya, juara satu digondol oleh kelompok yang dipimpin peserta dari Vanuatu, Viranria Tabe.

Setelah diberikan arahan selama 5 menit, para peserta diminta untuk membuat 3 macam masakan Indonesia, yakni sate maranggi (sate khas Purwakarta), dadar gulung, dan asinan Jakarta. Semua peralatan dan bahan disediakan namun waktu yang diberikan hanya 90 menit.


Kebanyakan diplomat asing sangat cepat memahami manual pembuatan ketiga masakan tersebut. Dengan cekatan, mereka mempersiapkan dan memasak. Satu dua peserta Indonesia dimasukkan dalam setiap grup agat dapat ikut mencicipi masakan dan tidak melenceng jauh dari cita rasa  aslinya.

Menurut dewan juri yang dipimpin oleh chef Alif, hasil olah masak para diplomat ini sangat mengagetkan karena terasa enak, penyajiannya unik, kebersihannya luar biasa dan waktunya pas. "Juara satu hingga tiga perbedaannya 11-12," ujar Alifathul.


Peserta dari Myanmar, Han Thein Kyaw, sangat terkesan dari kegiatan ini. Menurutnya, lomba memasak itu selain memperkenalkan masakan Indonesia juga mengajari pesertanya untuk bekerjasama. Sementara itu, Gregory dari Papua New Guinea, ingin mengaplikasikan kegiatan ini di negaranya khususnya di antara hotel-hotel yang ada.

"Saya belajar banyak dari Indonesia," ujar Gregory.


Cooking competition yang dihelat di Universitas Trisakti ini dimaksudkan sebagai salah satu cara Pusdiklat Kemlu memperkenalkan budaya kuliner Indonesia yang eksotis. Direktur Sekolah Staf dan Pumpinan Luar Negeri (Sesparlu) Odo Manuhutu menyambut gembira atusiasme peserta dalam memasak yang disaksikan Pimpinan Universitas Trisakti dan puluhan mahasiswa.

"Memasak merupakan salah satu mata pelajaran penting bagi diplomat senior Indonesia," ujar Odo Manuhutu kalem.

Selain dari Indonesia, peserta sekolah diplomat tinggal tinggi ini diikuti oleh peserta dari China, Vanuatu, Myanmar, PNG, Vietman, Timor Leste dan Kamboja. Selain belajar aneka teori terkait diplomasi, para peserta melakukan kegiatan di pulau Ora dalam sebuah proyek yang disebut "OraXpedition" (try/try)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT