BPBD OKI: Hotspot Bukan Berarti Firespot, Bisa Jadi Panas dari Atap Seng

BPBD OKI: Hotspot Bukan Berarti Firespot, Bisa Jadi Panas dari Atap Seng

Nur Khafifah - detikNews
Jumat, 16 Okt 2015 11:48 WIB
BPBD OKI: Hotspot Bukan Berarti Firespot, Bisa Jadi Panas dari Atap Seng
Foto: BNPB
Jakarta - Hotspot di kawasan Sumatera Selatan beberapa hari ini meningkat. Namun menurut BNPB dan petugas di lapangan, hotspot tak dapat dijadikan ukuran kesuksesan pemadaman api.

Kabid Penanganan Darurat dan Logistik BPBD Kabupaten OKI, Aswi Dimpo menjelaskan, kawasan OKI selalu terdeteksi hotspot dengan jumlah yang cukup tinggi. Namun setelah dicek, seringkali jumlah titik api tidak sebanyak yang ditunjukkan satelit, bahkan kadang tidak ada.

"Jadi hotspot ini bukanlah firespot. Kalau confident (dari pantauan satelit) 80-100 biasanya enggak ada api. Makanya kalau patroli, kami cek yang confidentnya tinggi dulu. Kalau di atas 100, bisa dipastikan api," terang Aswi di Kelurahan Kedaton, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Jumat (16/10/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Aswi, banyak hal yang kemungkinan terdeteksi sebagai hotspot di satelit. Seperti misalnya atap-atap seng dan aspal. Sebab di kawasan OKI memang banyak rumah-rumah pendatang dengan atap seng.

"Rumah-rumah pekerja perusahaan banyak yang atapnya seng. Rumah-rumah transmigran juga atapnya seng. Ini kalau siang kan panas sekali. Mungkin dideteksi satelit sebagai hotspot," kata Aswi.

Dalam pekan ini, menurutnya, rata-rata hotspot yang terpantau setiap harinya di bawah angka 80. Sementara pekan sebelumnya, angka hotspot mencapai 100 ke atas.

"Coba sekitar jam 12.00 WIB kita berdiri di sini, 2 jam saja tidak kuat. Panas sekali memang," ujarnya.

Sementara di sisi lain, banyak titik api yang muncul dari dalam tanah namun tidak terdeteksi oleh satelit. Titik api ini meskipun tidak tampak, namun akan sangat berbahaya. Sebab api akan dengan mudah merembet saat tertiup angin.

Tiba-tiba sekitar 30 menit sejak detikcom dan tim berdiri di sekitar lahan gambut, ada salah satu area yang berasap. Asap warna putih tersebut awalnya terlihat tipis. Namun lama-lama terlihat agak menebal.

"Nah yang seperti ini pasti ada api di bawah. Kalau ada angin, pasti muncul lidah apinya. Lalu nyebar lagi, kebakar lagi," terang Aswi.

"Yang begini ini justru pasti enggak kelihatan dari satelit," imbuhnya. (kff/hri)


Berita Terkait