Titik Hotspot di Sumsel Meningkat, Petugas Terus Berjibaku Padamkan Api

Titik Hotspot di Sumsel Meningkat, Petugas Terus Berjibaku Padamkan Api

Nur Khafifah - detikNews
Jumat, 16 Okt 2015 09:34 WIB
Titik Hotspot di Sumsel Meningkat, Petugas Terus Berjibaku Padamkan Api
Foto: Nur Khafifah
Jakarta - Berdasarkan pantauan citra satelit BMKG, hotspot di Sumatera Selatan hari ini meningkat cukup tajam. Jika kemarin titik hotspot sebanyak 297, hari ini meningkat drastis menjadi 663 titik.

Jarak pandang atau visibility di kawasan Sumatera Selatan hingga pukul 09.00 WIB juga cukup rendah, yakni kurang dari 1.000 meter. Hal ini menyulitkan pemadaman via udara dengan sistem boombing. Namun belum dipastikan apakah tim akan tetap melakukan pemadaman via udara atau tidak.

"Setiap pesawat punya standar sendiri-sendiri. Kita tidak pernah melarang kapan mau terbang. Jadi tidak bisa dipukul rata," kata Danlanud Palembang Letkol (Pnb) Muhammad Reza Yudha Fahlevie di BPBD Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (16/10/2015).

Namun menurutnya, upaya pemadaman tetap akan dilakukan. Fokus pemadaman masih sama, yakni di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), di mana lokasi tersebut paling banyak muncul titik hotspot. Seperti hari-hari sebelumnya, pemadaman tetap dilakukan via udara maupun darat. Bantuan asing juga masih bekerja keras membantu upaya pemadaman.

"Fokusnya masih OKI. Dari Pantai Timur, Air Sugihan, Cengal, Ogan Ilir, Muara Karang dan sekitarnya," ucap pria yang akrab disapa Lefie ini.

Lefie menjelaskan, upaya pemadaman dilakukan dengan berbagai cara. Yakni dengan water boombing, bahan kimia, sekat bakar hingga kanal. Seluruh upaya pemadaman dilakukan semaksimal mungkin.

Ia juga tak mengerti mengapa hotspot masih terus bertambah. Menurut Lefie, hotspot yang fluktuatif ini merupakan karakteristik lahan gambut.

"Gambut ini kan kalau sudah dipadamkan di atasnya, bawahnya kadang masih ada api. Ini masalahnya," ujarnya.

Sementara itu sebelumnya Kepala BNPB Willem Rampangilei menegaskan, hotspot bukanlah ukuran kesuksesan pemadaman api. Sebab pantauan hotspot setiap hari sangat fluktuatif.

"Kalau kita bicara masalah titik hotspot itu sangat fluktuatif. Sehingga tidak bisa menjadikan pegangan atau ukuran keberhasilan operasi," kata Willem Kamis (15/10). (kff/hri)


Berita Terkait