Dua penulis perjalanan asal Indonesia Trinity dan Agustinus Wibowo berbagi cerita mereka di hadapan publik Jerman dalam sebuah diskusi bertajuk 'The Art of Traveling' di arena eksibisi Indonesia di Frankfurt Book Fair 2015, Rabu (14/10/2015).
Trinity mengisahkan perjalanannya ke sejumlah negara yang ditulis dalam serial Naked Traveler, sementara Agus bercerita pengalamannya mengunjungi wilayah konflik dan daerah berbahaya seperti tertuang dalam bukunya Titik Nol, Garis Batas dan Selimut Debu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agus mengatakan, perjalanan ke sejumlah negara yang dikategorikan berbahaya, membuatnya semakin cinta Indonesia. Bila tidak melakukan itu, mungkin rasa cintanya terhadap negara sendiri tidak akan sebesar sekarang.
"Saya mengunjungi negara-negara yang orangnya tega membunuh hanya karena masalah perbedaan. Hal ini membuat saya lebih mensyukuri berada di Indonesia," ucapnya di depan pengunjung Book Fair.
Trinity menceritakan kisahnya di berbagai negara dan bertemu dengan karakter orang berbeda-beda. Menurutnya, pengalaman itu menjadikannya semakin bersyukur dari Indonesia. Bagi Trinity, orang Indonesia adalah petualang yang bisa survive dalam berbagai kondisi.
"Kalau perjalanan kaya saya kan serba nggak pasti. Nah, orang Indonesia itu lebih bisa survived di mana-mana. Kalau orang Amerika pasti protes pas nemu kecoa, kita kan nggak, udah biasa," tuturnya saat diwawancarai detikcom usai acara.
Walau sudah berpetualang ke banyak negara, Trinity meyakinkan pengunjung Book Fair 2015, bahwa Indonesia adalah negara yang sangat penting untuk dikunjungi. Berdasarkan pengalamannya, Indonesia adalah negara yang paling baik untuk berpergian dan memberikan banyak tantangan.
"Saya tidak akan berhenti keliling Indonesia. Ada 17 ribu pulau. Setidaknya kita butuh 40 tahun untuk menjelajahi semuanya. Saya percaya, Indonesia masih negara yang sangat cantik," ungkapnya.
(mad/faj)











































