Erlan didaulat bicara di panggung forum international Dialogue di Messe Frankfurt, Rabu (13/10/2015). Perusahaan yang dibangunnya adalah ekosistem terintegrasi dan platform teknologi buku digital.
Menurutnya, saat ini pembajakan dan minat baca yang rendah menjadi tantangan utama pemasaran e-book di Indonesia. Salah satu cara yang bisa ditempuh untuk mengatasi tantangan ini adalah dengan memperluas akses terhadap pengetahuan dengan memaksimalkan penggunaan e-book dengan harga beli yang murah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, Buqu tengah menggagas proyek e-library di 2000 desa di Indonesia, bekerjasama dengan penerbit buku dari Universitas untuk menyedianan materi e-book yang dibutuhkan warga desa, seperti ilmu bertanam dan perikanan.
"Kami yakin ide ini dapat diterapkan di negara-negara lain yang memiliki 'emerging market' baik di Afrika maupun Amerika Latin. Melalui cara ini, kita akan dapat meningkatkan minat baca dengan menggunakan e-book tanpa mengganggu industri penerbitan," ungkapnya.
Arsitektur Tradisional
Selain isu buku digital, ada juga diskusi soal arsitektur tradisional di stand Nasional bertajuki "Re-imagining Traditional Architecture"Β bersama arsitek dan penulis Imelda Akmal. Dia membahas mengenai bagaimana arsitektur modern dapat belajar banyak dari kearifan arsitektur tradisional. Sejumlah studi kasus diangkat oleh Imelda, antara lain adalah rumah Sumba dan Sompu yang dibangun dengan mempertahankan nilai nilai masyarakat lokal seperti gotong royong dan kekeluargaan.
"Arsitektur Tradisional bukanlah masa lalu, tapi justru sangat relevan dengan situasi kekinian. Darinya kita dapat belajar begitu banyak hal tentang makna hidup," imbuhnya.
Respons pengunjung Book Fair, khususnya dari warga Eropa yang hadir di lokasi, cukup baik. Mereka bertanya saat sesi diskusi dan melanjutkan tanya jawab usai acara. (mad/faj)











































