"Kamu lihat sekarang saya membebaskan PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) Rp 1 miliar ke bawah, saya memberikan KJP (Kartu Jakarta Pintar) hampir Rp 600 ribu, di akhir tahun saya buat PPSU (Petugas Prasarana dan Sarana Umum) sudah tidak lagi diberikan kepada pengusaha. Dulu semua pekerja di Jakarta itu dari pengusaha, sekarang saya cabut langsung," ujar Ahok di Hotel Millenium, Jl Fachruddin 3, Jakarta Pusat, Kamis (15/10/2015).
Tak hanya itu, Ahok juga mengatakan dirinya senantiasa meluangkan waktu di akhir pekan untuk datang menghadiri pernikahan warga yang dirayakan di gang-gang sempit perumahan. Kesempatan itu juga dimanfaatkan Ahok untuk menanyakan langsung apa saja kebutuhan mereka selama ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kenapa kami bebaskan orang dengan gaji (pas-pasan dengan) UMP bebas naik bus? Apa itu bukan membela wong cilik?" tanya Ahok.
Mantan Bupati Belitung Timur ini juga menyebut keinginannya untuk merevitalisasi jembatan halte busway dan jembatan penyeberangan orang (JPO) yang ada di Ibu Kota. Ia menilai apabila jembatan masih bisa diperlebar maka itu memungkinkan para penjual kaki lima (PKL) untuk menjajakan dagangannya di sana.
"Kenapa enggak sekalian dibuat toko? Jembatan penyeberangan dilebarin untuk menolong PKL supaya mereka bisa mendekatkan diri pada yang lewat. Nah, kalau saya lakukan itu bukan buat wong cilik saya enggak ngerti harus apa lagi namanya," urai dia.
"Terus saya dibilang menguntungkan pengusaha. Justru banyak pengusaha bilang 'Kamsia Ahok sampai 2017 saja'. Saya kerjain mereka dengan menutup Stadium, saya tutup yang main narkoba, yang nyurangin pajak, saya segel berapa banyak (propertinya) dan saya denda. Terus gimana sih dibilang saya bela pengusaha?" lanjut Ahok penuh keheranan.
Ahok menjabarkan semua ini bukan tanpa sebab. Dia ingin meluruskan tudingan politisi PDIP Eva Sundari yang menyebut dirinya pro kapitalis dan melupakan rakyat kecil.
Namun Ahok merasa selama ini apa yang dikerjakannya semata untuk warga Ibu Kota. Meski demikian Ahok memberi kebebasan biar warga yang menilai bagaimana kinerjanya selama 3 tahun kepemimpinannya. Dia juga tidak ingin mendebat pendapat Eva tersebut hingga berujung panjang.
"Kalau saya bela pengusaha, kalau saya ketemu orang kecil senyum-senyum enggak setiap diajak foto? Enggak mau pasti. Mereka punya nurani. Pasti dia tahu apa yang kita kerjakan. Saya bisa masuk kampung dengan bebas," pungkasnya. (aws/hri)










































