Hal itu dilakukan oleh tim dari penerbit Kesaint Blanc bekerjasama dengan ilustrator terkemuka yang mendunia dari studio Caravan, Chris Lie. Chris pernah bekerjasama dengan rumah produksi Marvel dan perusahaan besar lainnya. Sementara karyanya dipakai untuk desain mainan Spiderman hingga Transformers.
![]() |
Fita bercerita, ada empat kisah legenda yang dia ambil, lalu dimodifikasi ceritanya agar sesuai untuk anak-anak. Di antara cerita tersebut adalah Sangkuriang dan Timun Mas. Dalam versi aslinya, ada adegan kekerasan dan materi yang tidak pas untuk anak. Karena itu mereka menceritakan ulang dengan bantuan penulis Inggris Andy Bianchi.
![]() |
Laura menambahkan, awal mula proyek ini berasal dari pameran buku tahun lalu. Dia ingin mencari buku cerita legenda untuk anak-anak, namun ternyata beberapa isinya cukup 'mengganggu'. Dengan bantuan penulis Inggris tadi, cerita legenda yang dibuatnya kini menjadi lebih menarik dan ramah anak.
"Dia (Andy Bianchi) menulis teks dengan sangat indah," terangnya.
![]() |
Setelah bekerja dengan teks, tim tersebut langsung mencari ilustrator gambar dan akhirnya menemui Chris Lie. Setahun kemudian, proyek itu jadi dengan kombinasi teks dan ilustrasi yang menarik. Ada empat judul buku legenda yang dipamerkan oleh tim tersebut, yakni Toba and His Promise, The Golden Cucumber and His Furious Giants, The gambler and the Dragon, The Hunter and The Impossible Task.
"Salah satu alasan kami mau melakukan proyek ini, kami dan tim saya selalu ingin mengerjakan indonesia legenda, tapi kami belum pernah punya kesempatan untuk melakukannya," terang Chris.
Butuh waktu sekitar total 6 bulan bagi Chris untuk membuat ilustrasi gambar. Hal itu dilakukan untuk riset, sampai produksi. Mereka tidak mau asal-asalan membuat desain untuk cerita dari negeri sendiri. Karena itu, prosesnya harus benar-benar sempurna.
"Misalnya Kami melakukan riset soal pakaian. Ini adalah jenis baju tradisonol pakaian dari Sunda, Jawa barat, lalu kami memodifikasinya," kata Chris sambil menunjukkan gambar pakaian adat Sunda.
Untuk gambar naga, Chris mencari inspirasi dari Bali. Mereka melihat patung-patung di sana, dan akhirnya membuat tampilan naga khas Indonesia, bukan seperti di Eropa atau di China.
"Ini adalah pengalaman baru buat kami. Sebelumnya kami mendesain untuk sci-fi, fantasy. Sekarang desain legenda Indonesia lebih sulit buat saya, banyak beban. Karena orang berharap kami melakukan kerja yang bagus," terangnya.
Seorang pengunjung sempat bertanya tentang salah satu kisah di dalam buku. Dia penasaran dengan cerita di balik terpisahnya pulau Jawa dan Bali di cerita The gambler and the Dragon. Setelah dijelaskan oleh Fita, dia menjawab: "sangat menarik". (mad/faj)














































