Isu SARA Dinilai Basi Jika Jadi Senjata untuk Jatuhkan Ahok

Isu SARA Dinilai Basi Jika Jadi Senjata untuk Jatuhkan Ahok

Septiana Ledysia - detikNews
Rabu, 14 Okt 2015 17:25 WIB
Isu SARA Dinilai Basi Jika Jadi Senjata untuk Jatuhkan Ahok
Foto: Septiana
Jakarta - Warga Jakarta dinilai sangat rentan dengan isu SARA. Lembaga survei Saiful Mujani Research dan Consulting (SMRC) mencoba meneliti efektifitas isu SARA dalam kampanye.

Hasilnya menurut Direktur Eksekutif SMRC, Djayadi Hanan isu SARA tak akan bisa digunakan menjadi senjata lawan untuk menjegal Basuki T Purnama (Ahok) dalam Pilgub DKI 2017 nanti.

"Dengan melihat kinerja dan dukungan seperti ini siapapun yang maju tampaknya memerlukan usaha yang tidak mudah, karena kinerjanya Ahok dinilai positif di masyarakat. Kedua tampaknya gubernur yang menantang tidak cukup dengan isu etnis atau agama, harus ada pembuktian," kata Djayadi di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta Pusat, Rabu (14/10/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di lain pihak, Politisi PDIP Eva Sundari mengatakan, isu SARA di Jakarta sudah ada sejak zaman Joko Widodo (Jokowi) mencalonkan menjadi Gubernur DKI. Jadi menurut dia cara tersebut seharusnya tidak dilakukan lagi.

"Jakarta ini unik kalau masalah popularitas kita punya pengalaman dari Jokowi dulu masih underdog kita bisa lawan dengan pendekatan rasional yaitu dengan medsos. walau diserang isu SARA kita bisa lawan. Capek isu SARA itu jadi senjata trend nya untuk naik, walaupun saya percaya Jakarta masyarakatnya rasionalis dan cerdas namun belakangan bisa tergerus juga," kata Eva di tempat yang sama.

Di sisi lain politisi Gerindra, Habiburohman mengatakan kesempatan besar untuk menantang isu SARA ialah dengan menunjukkan kinerja yang baik selama menjabat.

"Jadi terus terang sama-sama kecewa ada prasangka rasisme, tapi itu kan kenyataan dan sama-sama punya idealisme ke depan. Jadi gini, pemilu rasional kalau sekian tahun warga dibuat kecewa tentu tidak ada yang milih lagi. Namun ada secara bersamaan calon yang walau beda etnik tapi bisa jadi kepilih," kata Habiburohman. (spt/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads