Kraetzer bekerja di sebuah perusahaan penerbit bernama die horen di Jerman. Dia datang ke paviliun setelah mengikuti upacara pembukaan di kompleks Congress Center Messe, Frankfurt, Jerman, Selasa (13/10/2015). Ada ratusan orang yang menyerbu arena pameran, karena Indonesia berstatus sebagai guest of honour atau tamu kehormatan.
Selama beberapa menit, Kraetzer berkeliling arena paviliun. Dia menjelajahi tujuh arena pulau yakni Island of Words, Island of Scene, Island of Images, Island of Spices, Island of Illumination, Island of Tales, dan Island of Inquiry.
Suasana paviliun Indonesia di Frankfurt Book Fair 2015 (Rachmadin/detikcom) |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"17.000 pulau dan 700 bahasa. Saya rasa itu budaya yang sangat berbeda. Saya tidak tahu bagaimana caranya (orang Indonesia) bisa hidup bersama dengan perbedaan itu," cerita Kraetzer kepada detikcom dan jurnalis Indonesia lainnya penuh antusias.
Melihat hal itu, Kraetzer jadi sangat tertarik untuk berkunjung ke Indonesia. "Saya ingin pergi sebagai turis ke sana," imbuhnya.
Paviliun Indonesia menuai banyak pujian di ajang bergengsi tersebut (Rachmadin/detikcom) |
Selama ini, Kraetzer hanya mendengar cerita tentang Bali, bukan Indonesia. Hal yang sangat umum ditemui bila bicara soal wisata di Indonesia bersama penduduk Eropa atau Amerika. Namun lewat ajang pameran itu, matanya kini lebih terbuka.
"Sekarang jelas buat saya, banyak hal menarik di Indonesia. Saya ingin mencari tahu lebih banyak lagi. Saya butuh banyak informasi tentang Indonesia. Ini sangat menarik," ungkap pria yang mengaku gemar menyelam ini.
Pujian tak hanya datang dari pengunjung saja. Pihak penyelenggara dan otoritas Jerman lainnya sudah sejak awal memuji paviliun Indonesia. Misi pihak komite dan Kemendikbud untuk memperkenalkan Indonesia sebagai 'brand' yang berbeda, sejauh ini sesuai harapan.
Warga antusias melihat paviliun Indonesia (Foto: dok. Komite Nasional Indonesia untuk Tamu Kehormatan FBF 2015) |
"It's perfect! Segala detil dari paviliun ini mengagumkan, bahkan rekan saya yang tidak banyak tahu tentang Indonesia jadi sangat terkesan. Semoga setelah ini Indonesia akan jauh lebih banyak dikenal," ujar Irene Jansen, Direktur DAAD Indonesia.
"Saya yakin para pengunjung Indonesia akan pulang membawa kesan baru tentang Indonesia, dan mengubah semua pandangan klasik sebelumnya," kata Juergen Boos, direktur Frankfurt Book Fair. (mad/hri)












































Suasana paviliun Indonesia di Frankfurt Book Fair 2015 (Rachmadin/detikcom)
Paviliun Indonesia menuai banyak pujian di ajang bergengsi tersebut (Rachmadin/detikcom)
Warga antusias melihat paviliun Indonesia (Foto: dok. Komite Nasional Indonesia untuk Tamu Kehormatan FBF 2015)