Mendikbud: Indonesia Mengajak Dunia Bercakap Lebih Luas Soal Perbedaan

Laporan dari Frankfurt

Mendikbud: Indonesia Mengajak Dunia Bercakap Lebih Luas Soal Perbedaan

Rachmadin Ismail - detikNews
Rabu, 14 Okt 2015 11:30 WIB
Mendikbud: Indonesia Mengajak Dunia Bercakap Lebih Luas Soal Perbedaan
Foto: Rachmadin Ismail
Frankfurt - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menjadi tamu kehormatan dalam ajang pameran buku terbesar dunia Frankfurt Bookfair 2015. Dia juga menyampaikan pidato yang berisi tentang ajakan kepada Eropa dan dunia untuk membuka percakapan lebih luas soal perbedaan.

Tampil berbatik dan berbahasa Indonesia, Anies berpidato di acara pembukaan Frankfurt Bookfair 2015 di Congress Center Messe, Frankfurt, Selasa (13/10/2015), setelah Monika GrΓΌtters, Menteri Kebudayaan dan Media Republik Federasi Jerman, Volker Bouffier – Kepala Negara Bagian Hessen, Peter Fieldmann – Walikota Frankfurt am Main, Juergen Boos – Direktur Frankfurt Book Fair dan Heinrich RiethmΓΌller – Presiden Asosiasi Penerbit dan Toko Buku Jerman, serta penampilan memukau dari Endah Laras dan Goenawan Muhammad sebagai ketua Komite Nasional Indonesia untuk Tamu Kehormatan Franfurt Book Fair 2015.

Mantan rektor Universitas Paramadina tersebut di awal pidato menyampaikan sebuah kehormatan besar dipilih sebagai tamu kehormatan dalam ajang prestisius Frankfurt Bookfair 2015. Kesempatan itu dijadikan tantangan dan juga pengalaman penting, sebab Indonesia selama ini kurang dikenal di Eropa, khususnya Jerman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski begitu, tujuan utama Indonesia di gelaran pameran buku terbesar dunia tersebut bukan hanya untuk memperkenalkan diri, namun juga untuk mengajak dunia membuka percakapan yang lebih luas, terutama soal tema perbedaan.
Anies di Frankfurt Bookfair 2015 (Rachmadin/detikcom)


"Tujuan kami yang lebih penting adalah untuk mengundang, mengajak Eropa dan dunia ke dalam sebuah percakapan yang lebih luas. Terutama di masa ini, ketika ribuan orang dari luar Eropa datang berpindah dan di antaranya sudah jadi bagian dari kehidupan di sini," jelasnya yang disambut tepuk tangan hadirin.

Menurut Anies, Eropa saat ini menghadapi gelombang kedatangan pengungsi dengan beranekaragam ekspresi dan cara hidup. Walau ini bukan hal yang baru, sebab Eropa terbentuk oleh pelbagai migrasi sejak abad ke-9, namun kehadiran Indonesia dalam menghadapi perbedaan tersebut diharapkan bisa jadi sumbangan tersendiri.

"Sumbangan kami untuk meneguhkan, bahwa kebudayaan berkembang melalui sikap yang terbuka. Kebudayaan adalah percakapan yang terus menerus," terang Anies.

Indonesia memiliki pengalaman cukup panjang dalam urusan mengelola perbedaan. Negeri yang terdiri dari 17.000 pulau, 800 bahasa daerah dan 300 tradisi lokal. Berabad-abad, melalui perdagangan atau diplomasi, perang atau damai, keanekaragaman itu menjadi pelajaran untuk hidup bersama.

"Maka Indonesia yang kini tegak, bukan dipersatukan dengan penaklukan, melainkan dengan imajinasi. Imajinasi-lah yang membuat Indonesia bersatu dan dibangun terus sebagai keluarga besar," tegasnya.

Contoh yang paling terlihat adalah penggunaan bahasa Indonesia, sebagai bahasa nasional yang tumbuh dari sejarah. Bahasa Indonesia itu bukan didekritkan, bukan juga diambil dari bahasa kelompok tradisi mayoritas. "Dengan bahasa yang satu, yang tetap merawat dan dukung mendukung dengan bahasa-bahasa lokal, Indonesia mengelola ke-bhineka-annya," imbuh Anies.

Minat Baca Buku Indonesia

Setelah 70 tahun meredeka, kata Anies, Indonesia berhasil membalikkan keadaan dari keterpurukan literasi. Bila setelah penjajahan, tingkat literasi hanya 5 persen dengan keadaan ekonomi yang lemah, kini tingkat literasi mencapai 95 persen.

Menurut Anies, Di bawah kolonialisme Belanda Indonesia tak mengenal universitas, dan kini ada lebih dari 3.000 universitas. Kelaziman membaca di kalangan penduduk juga masih sangat rendah, tetapi makin lama makin
meningkat, terutama di kalangan generasi muda.

Lewat buku, Indonesia berusaha terus bangkit dan mengelola perbedaan. Lewat buku juga, ada proses pembelajaran yang tak henti-hentinya tentang orang lain, tentang dunia lain. Peran buku juga vital untuk mengubah masa depan. walau bentuknya akan terus berubah, namun esensinya yakni kreatifitas, dalam bidang pemikiran dan keindahan akan terus berlanjut.

"Dengan itu, kami mengundang anda semua bukan saja untuk menyaksikan prestasi Indonesia di Frankfurt dan kota-kota lain, tetapi juga untuk merayakan ke-bhineka-aan yang dirajut dengan imajinasi," tutup Anies yang kembali disambut hangat hadirin. (mad/hri)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads