Penampilan Memukau Endah Laras dan Kisah Malang Sumirang di Pembukaan FBF

Laporan dari Frankfurt

Penampilan Memukau Endah Laras dan Kisah Malang Sumirang di Pembukaan FBF

Rachmadin Ismail - detikNews
Rabu, 14 Okt 2015 10:02 WIB
Penampilan Memukau Endah Laras dan Kisah Malang Sumirang di Pembukaan FBF
Foto: Foto: Komite Nasional Indonesia untuk Tamu Kehormatan Franfurt Book Fair 2015
Frankfurtt - Selain pidato dari berbagai tokoh penting di Jerman, acara pembukaan Frankfurt Book Fair 2015 juga diisi oleh penampilan dari penyanyi keroncong dan lagu Jawa Endah Laras. Lewat pembacaan dan nembang puisi 'Suluk Malang Sumirang' dia memukau publik dunia di acara tersebut.

Tampil cantik dengan kain batik dan kebaya merah, Endah mengkombinasikan pembacaan puisi dan lantunan tembang Jawa yang merdu. Dia membuat seribuan hadirin yang datang ke acara pembukaan di Congress Center Messe, Frankfurt, Selasa (13/10/2015), terdiam dan terpesona.

Selama sekitar 15 menit, Endah menembangkan kisah tentang Malang Sumirang yang hendak dibakar oleh pemimpin kampung setempat, namun berhasil membebaskan diri. Semua disampaikan dalam bentuk teks aslinya bahasa Jawa. Bagi mereka yang tidak paham, ada sebuah teks berbahasa Inggris berukuran besar yang disiapkan di atas layar panggung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usai pembacaan tersebut, tepuk tangan membahana. Seluruh hadirin terpesona dengan suara Endah yang memang berpengalaman dalam penampilan di berbagai ajang dunia. Wanita yang pernah tampil di Film Soegija itu pernah terlibat dalam pentas Wayang Superstar Dewa Ruci di Museum Tropen, Amsterdam, Belanda, Les Orientales Festival de Saint-Florent-Le-Vieil, Perancis, dan The 13th Suwon Hwaseons Fortress Theater Festival, Korea Selatan.

Ketua Komite Nasional untuk Tamu Kehormatan Franfurt Book Fair 2015 Indonesia di Frankfurt Book Fair 2015 Goenawan Muhammad kemudian maju ke atas panggung setelah penampilan Endah. Dia menjelaskan, makna di balik pembacaan dan tembang puisi yang ditampilkan oleh wanita asal Sukoharjo tersebut.

"Baru saja kita mendengarkan Endah Laras, dengan suaranya yang merdu, membaca, dan menembangkan sebuah puisi Jawa abad ke-19. Puisi itu bercerita tentang sebuah adegan yang dramatis, aneh, dan memukau: seorang yang dihukum bakar di sebuah alun-alun Jawa di abad ke-15, tapi di tengah nyala api, ia menulis, mungkin sebuah puisi," kata Goenawan.

Goenawan bercerita, Malang Sumirang dianggap melanggar hukum dan ajaran agama. Raja dan para ulama besar memutuskan untuk menghapusnya dari kehidupan. Ia dihukum dengan dibakar hidup-hidup seperti banyak orang yang dianggap bid'ah dalam Inquisisi Gereja Spanyol di abad ke-15.

Tapi berbeda dari cerita-cerita itu, Malang Sumirang dengan tenang berjalan sendiri memasuki api yang dikobarkan di atas unggun kayu di tengah alun-alun kerajaan. Di tengah panas yang tak terkira, Malang Sumirang seakan-akan tak tersentuh, meminta sebatang pena, sebotol tinta, dan beberapa lembar kertas. Ia menyuruh anjingnya yang setia untuk membawakan itu semua.

Sultan, para petinggi, para ulama besar, dan ratusan orang yang ingin menyaksikan kekejaman hari itu, merasa takjub. Malang Sumirang tidak hangus. Ia tidak tewas. Bahkan kemudian api padam, dan ia melangkah turun, lalu meninggalkan alun-alun dan semua yang hadir. Sebelum pergi, ia memberikan sajak yang digubahnya kepada baginda. Dan ia pun berjalan menuju ke sebuah hutan yang tak tertembus. Segera sesudah itu, Raja memerintahkan agar apa yang ditulis Malang Sumirang dibaca di hadapannya. Tapi tak disangka-sangka, orang yang dititahkan untuk membacanya tak bisa menyelesaikan tugas.

Lalu, apa makna dari kisah tersebut?

"Kisah Malang Sumirang bisa ditafsirkan bercerita tentang kekejaman sebuah kekuasaan -- baik kekuasaan politik maupun agama. Tapi dengan segera tampak juga bahwa kekuasaan itu akhirnya terbatas: raja dan para ulamanya bahkan tak bisa menghentikan langkah seekor anjing yang lazimnya dianggap najis tetapi setia," tutur Goenawan.

"Lebih jauh lagi, dalam kisah ini, kekuasaan terhenti ketika menghadapi hasrat dan energi yang melahirkan tulisan. Dalam arti ini, menulis telah membuat seorang yang terhukum mebalikkan posisinya, dari seorang yang terkutuk menjadi seorang yang tak terjangkau. Malang Sumirang menulis -- dan dengan itu ia mengubah mereka yang
berkuasa menjadi yang tak berdaya," sambungnya.

Goenawan berharap, lewat kearifan tersebut, kita lebih baik dalam menyambut kelahiran buku. Menulis buku bukan hanya untuk memamerkan kecerdasan pengarang, juga tidak hanya menjadikannya sebagai komoditi besar di sebuah pasar yang ramai.

"Yang saya harapkan ialah bahwa kita semua bersedia mengingat kembali apa yang dilakukan Malang Sumirang: kita menulis untuk menegaskan keseteraan manusia. Kita menulis untuk menghidupkan percakapannya. Dan dengan demikian kita menulis juga untuk menumbuhkan kemerdekaannya," tutup Goenawan yang disambut tepuk tangan membahana dari hadirin.

(mad/Hbb)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini