"Permasalahan komprehensif memang karena ada faktor kemiskinan di situ (pembakaran hutan)," kata peneliti Forest Watch Togu Manurung usai diskusi di gedung PBNU, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (13/10/2015).
Ia mengatakan, sebagian besar warga yang membakar lahan adalah pengangguran sehingga mudah tergiur penawaran untuk membakar hutan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Togu meminta pemerintah membuka lapangan kerja lebih banyak serta mengedukasi masyarakat untuk pemanfaatan lahan selain dengan cara dibakar. Selain itu, pemerintah harus mengalokasikan anggaran lebih besar pada sektor monitoring dan pencegahan daripada pemadaman kebakaran hutan.
"Ini (solusi permanen) harus didukung dengan adanya politik anggaran pada APBD/APBN terhadap kegiatan pencegahan. Harus terlihat besarannya signifikan meningkat bahkan bisa diusulkan 80% untuk monitoring dan pencegahan dan 20% untuk pemadaman," pungkasnya.
(mnb/Hbb)










































