Begini Persiapan Peneliti BMKG Sebelum Berangkat ke Kutub Selatan

Begini Persiapan Peneliti BMKG Sebelum Berangkat ke Kutub Selatan

Yulida Medistiara - detikNews
Selasa, 13 Okt 2015 15:50 WIB
Begini Persiapan Peneliti BMKG Sebelum Berangkat ke Kutub Selatan
Wido dan Kadarsah
Jakarta - BMKG akan memberangkatkan dua penelitinya ke kutub selatan untuk memahami pengaruh laut terhadap kondisi iklim dan cuaca Indonesia. Perbedaan suhu dan iklim antara Indonesia dengan Antartika membuat Wido Hanggoro dan Kadarsah harus menyiapkan diri dengan baik.

"Sebelumnya kita berangkat ke sana (Hobart) untuk aklimatisasi atau penyesuaian kondisi tubuh kita dulu supaya tidak kaget dengan iklim di sana (kutub). Kita stay di Hobart, kepulauan Tasmania dulu seminggu untuk menyesuaikan suhu dan ada briefing mengenai tata cara keadaan darurat," ujar Wido dan Kadarsah ditemui detikcom di gedung BMKG di Jl Angkasa 1 Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (13/10/2015).

Saat para peneliti menyesuaikan diri dengan kondisi cuaca, mereka dipersilakan untuk berlari-lari, berjalan kaki atau pun berkegiatan lainnya guna beradaptasi. Mereka juga ditanyai tentang makanan atau pun penyakit yang diderita seperti alergi yang menjadi sumber pantangan makan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita harus membiasakan diri dulu seperti lari, jalan kaki, tapi kan tubuh itu tidak bisa langsung seperti itu. Harus ada penyesuaian nah Davis dan Habort itu sudah sangat dekat dengan Antartika," kata Wido.

Selain itu, terdapat beberapa aturan teknis seperti tas yang boleh dibawa naik hanya seberat 15 kg berjumlah 2. Kemudian, para peneliti melakukan persiapan tes medical check up yang dites oleh dokter Australia dan Amerika.

"Kita sebelum ke sana harus ada tes medis seperti HIV, audiogram untuk pendengaran, sipilis, TBC, scan dada. Jadi kita sudah disiapkan secara fisik kalau kita sudah sehat. Jadi ada petugas medis di sana yang menyatakan bahwa kita berdua ini sehat," ujar Wido.

Mereka akan menaiki kapal Aurora Australis dari Habort ke Antartika. Dalam tujuh hari penyesuaian itu, kedua peneliti telah disiapkan juga baju khusus untuk menghadapi cuaca ekstrim di sana.

"Kebetulan yang seminggu itu termasuk Kitting, dari awal kita sudah mengisi ukuran baju dari mulai jaket, sepatu, celana, sarung tangan, jadi sebetulnya kita hanya bawa baju keseharian dari sini," papar Wido.

Kadarsah juga mengatakan bahwa di dalam kapal akan ada pelatihan untuk melatih kesiapan penumpang untuk menghadapi berbagai kondisi darurat. Misalnya beberapa simulasi menghadapi kebakaran, mabuk laut, hingga penggunaan peralatan keselamatan.

"Dengar cerita juga dari teman yang pernah ekspedisi sebelumnya kalau ada ombak besar kita harus mengikatkan diri di kasur. Akan diperkenalkan juga peraturan safety dan segala peralatan yang dibutuhkan untuk konteksnya ekstrim disediakan oleh Australian Antartic Division," sambung Kadarsah.

Riset yang dilakukan tim peneliti Indonesia akan mengggunakan metode LIDAR (Light Detection and Ranging). Metode tersebut akan melihat kondisi atmosfer di Antartika yang kemudian dijadikan acuan langkah berikutnya oleh Indonesia pada saat cuaca ekstrim.

"Kita akan melihat bagaimana kondisi atmosfernya karena dengan mengetahui kondisi atmosfer di Antartika, minimal kita sudah mengetahui dampaknya seperti apa di Indonesia karena waktu itu pernah terjadi di Indonesia saat di Antartika sedang cuaca ekstrim di Jakarta 8 derajat celsius," ujar Kadarsah. (faj/faj)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads