Namun anggota Fraksi Demokrat Mulyadi yang merasa menjadi korban di kasus ini, menolak disebut perkelahian. Dirinya merasa dipukul oleh rekan komisinya anggota asal PPP Mustofa Assegaf. Mustofa baru diperiksa di MKD pada Senin (12/10) kemarin. Mustofa adalah adik Ketua BKSAP DPR yang berasal dari Fraksi PD Nurhayati Ali Assegaf.
"Ini sederhana, ada aparat hukum yang langsung datang saat kejadian dan langsung visum. Visum itu siapapun bisa divisum, tapi tidak bisa orang ngaku (korban), tapi ngga ada visumnya. Nggak bisa ngarang-ngarang sendiri," ucap Mulyadi usai paripurna di gedung DPR, Jakarta, Selasa (13/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Silakan MKD rekonstruksi, mau diulang lagi boleh. Tapi jangan dijadikan main-main, pasti ketahuan," ujarnya soal rencana MKD menggelar rekonstruksi kasus.
Soal ancaman sanksi skorsing hingga pemecatan yang bisa mengenai dirinya dan Mustofa, Mulyadi meminta MKD obyektif berdasarkan bukti dan keterangan yang ada. Selain visum, dia sudah memberikan bukti foto luka yang ada di pelipisnya saat peristiwa itu terjadi 5 bulan lalu.
"Saya harap MKD integritasnya bisa kita percaya, jangan berandai-andai yang tidak-tidak," tegasnya.
Sebagaimana diketahui, pemukulan yang melibatkan dua anggota Komisi VII itu terjadi pada Rabu (8/4) lalu, di sela rapat dengan Menteri ESDM Sudirman Said. Peristiwa itu tak disaksikan wartawan karena terjadi di lorong dekat toilet Komisi VII, bukan di ruang rapat.
Kasus itu bergulir di MKD sampai akhirnya dibentuk panel yang menunjukkan kasus itu sebagai dugaan pelanggaran berat. Pada Senin (12/10) kemarin, MKD sudah memanggil Mustofa. Usai diperiksa MKD, Mustofa menolak memberi keterangan kepada wartawan.
Rencananya MKD akan memanggil satu orang saksi lagi termasuk Mulyadi pada pekan depan, sekaligus akan dilakukan rekonstruksi kasus untuk membuktikan pemukulan atau perkelahian, karena adanya keterangan yang berbeda-beda. (bal/tor)











































