Ditemui akhir pekan kemarin, baik Ahmad maupun Minggus mengaku keluar dari rumah dan mangkal di Pasar Pelita Priok sejak pukul 06.00 WIB. Mereka mengincar penumpang yang pergi atau pulang dari pasar.
Makan siang, keduanya pulang ke rumah masing-masing dan ngasoh alias istirahat. Sore baru kembali keluar hingga malam. Rupiah yang didapat tak seberapa, tapi cukup untuk makan sehari-hari.
![]() |
"Saya keluar jam 6 pagi. Kadang pulang dulu. Nanti jam 4 sore keluar lagi, pulang jam 9 malam," ujar Ahmad.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak mudah memang di tengah gempuran ojek pangkalan dan ojek online. Tapi hidup harus dilakoni, yang penting bagi keduanya asal ada usaha pasti ada jalan.
"Sepeda ini saya beli Rp 15 ribu tahun 1998, sekarang nggak tahu berapa harganya," ujar Minggus tentang sepeda yang menjadi sumber nafkahnya.
Bagi kedua pengojek onthel ini, semua pekerjaan diterima. Jadi ojek onthel hanya sampingan, biasanya ada orang atau langganan yang meminta banyak bantuan, angkat barang, antar barang, bayar sesuatu, atau juga kuli bangunan.
"Yang penting halal, mas," tutur Ahmad dengan senyum. (dra/dra)












































