Laporan dari Tokyo

Dubes Yusron Bercerita Tentang Patung Sudirman di Dephan Jepang

Arifin Asydhad - detikNews
Minggu, 11 Okt 2015 23:01 WIB
Foto: Dokumentasi KBRI
Tokyo -
Patung Jenderal Sudirman berpakaian tentara Peta berdiri tegak di halaman belakang kantor Departemen Pertahanan Jepang di Tokyo. Patung setinggi 4 meter yang terbuat dari perunggu ini sudah berdiri sejak beberapa tahun lalu. Namun, keberadaan patung ini baru diketahui publik secara luas tahun ini.

Duta Besar RI untuk Jepang Yusron Ihza Mahendra menceritakan kembali mengenai patung pahlawan Indonesia yang menjadi tokoh besar dalam sejarah berdirinya TNI ini saat menerima rombongan komunitas tenis dari Jakarta, Rabu (7/10/2015) pekan lalu.

Yusron Ihza saat menerima komunitas tenis (Foto: Arifin Asydhad/detikcom)


Rombongan komunitas tenis ini datang ke Tokyo untuk menyaksikan pertandingan Rakuten Japan Open ATP 500 World Tour yang digelar di Ariake Tennis Stadium. Rombongan terdiri dari berbagai macam latar belakang: pengusaha, wiraswasta, pengacara, auditor bank dan PNS.

Saat itu, salah seorang rombongan menanyakan adanya patung Jenderal Sudirman di area kantor Dephan Jepang. Atas pertanyaan ini, Yusron sangat antusias bercerita.

Menurut dia, patung Sudirman ini sebenarnya dibangun atas prakarsa pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan saat dipimpin Purnomo Yusgiantoro di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Patung ini dibuat di Indonesia, kemudian diangkut ke Tokyo dan didirikan di halaman belakang kantor Dephan Jepang.

Patung Jenderal Sudirman ini berbeda dengan patung-patung Jenderal Sudirman lainnya yang selama ini selalu digambarkan dengan pakaian jas jubah lusuh dan blankon, sebuah penggambaran Sudirman saat memimpin perang gerilya. Patung Sudirman di Dephan Jepang ini mengenakan seragam PETA, organisasi tentara yang didirikan Jepang.

Peletakan karangan bunga di Patung Sudirman (Foto: Dokumentasi KBRI)


"Yang perlu diapresiasi adalah mengapa Jepang mau menerima patung itu didirikan di kantor Dephan Jepang," kata Yusron yang pernah menjadi anggota DPR dari Partai Bulan Bintang periode 2004-2009 ini.

Saat ini, patung Sudirman sudah mulai agak kusam. KBRI sedang menyiapkan tim untuk memberikan sentuhan agar patung Sudirman itu tetap awet.

Yusron bercerita bertepatan hari Kemerdekaan ke-70 RI 17 Agustus 2015 lalu, dirinya diundang Kelompok Masyarakat Jepang untuk meletakkan karangan bunga di patung tokoh besar Perang Gerilya yang diakui dunia itu. Yusron menyambut baik undangan itu dan memenuhinya.

Dalam upacara peletakan karangan bunga itu, Fujii Gemki, ketua panitia pelaksana upacara  menyebutkan bahwa Jenderal Sudirman merupakan figur penting dalam sejarah Indonesia dan sekaligus juga dalam sejarah Indonesia-Jepang. Melalui tentara PETA, yang dibentuk Jepang, kontak antara tentara Jepang dengan Jenderal Sudirman terjadi. Menurut Fujii, Sudirman menjadi salah satu simbol penting dalam hubungan kedua negara.

Patung Sudirman ini merupakan satu-satunya patung pahlawan asing yang ada dan dipajang di Jepang. Ini merupakan fenomena yang unik dam sekaligus merupakan keistimewaan bagi Indonesia.

Sayangnya, patung Sudirman ini tidak bisa disaksikan oleh kalangan umum karena letaknya di dalam area kantorDephan. Untuk dapat melihat patung Sudirman dari dekat, pengunjung harus mita izin terlebih  dulu kepada pihak Dephan Jepang dan itu bukan sesuatu yang mudah. Karena itu, Yusron berkeinginan untuk melobi agar patung Sudirman bisa dikunjungi publik, terutama wisawatan, dengan mudah.  


Cerita Yusron Soal Wisma KBRI

Pada kesempatan ini, rombongan menanyakan banyak hal kepada Yusron. Antara lain mengenai beasiswa pendidikan di Jepang, kelanjutan proses magang oleh siswa-siswa SMK Indonesia di Jepang, dan tanggapan mengenai kalahnya Jepang dari China dalam proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung.

Yusron juga ditanya mengenai kisah bagaimana dirinya bisa dipilih sebagai dubes Jepang dan beberapa soal kasus hukum karena latar belakag Yusron yang memiliki gelar Master of Laws (LLM).

Suasana ramah tamah bersama Dubes Jepang Yusron Ihza (Foto: Arifin Asydhad/detikcom)


Semua pertanyaan dijawab Yusron dengan jelas. Hanya pertanyaan mengenai kalahnya Jepang oleh China dalam proyek pembangunan kereta cepat, yang dijawab Yusron dengan singkat dan tidak berkenan dipublikasikan, karena suasana masih belum memungkinkan.

Yang pasti, Yusron juga dibuat sibuk dan melakukan pertemuan-pertemuan lobi terkait ini agar hubungan Indonesia dan Jepang masih terjalin hangat dan erat.

Yusron bercerita panjang lebar mengenai dipilihnya dirinya sebagai dubes Jepang. Sebenarnya, Yusron sudah dijanjikan untuk menjabat dubes Jepang sejak awal era Presiden SBY-JK. Yusron dinilai sangat berkompeten sebagai dubes Jepang karena menguasai seluk beluk karakter dan budaya Jepang. Dia juga pernah bersekolah S2 dan S3 dan tinggal lama di Jepang.

Namun entah mengapa saat itu dirinya tidak kunjung ditunjuk. Malah beberapa kali, Yusron ditawari menjadi dubes beberapa negara lain, termasuk Belanda dan Malaysia, namun dia menolak. "Saya menolak karena negara-negara selain Jepang itu saya tidak menguasai," ujar Yusron yang sangat fasih berbahasa Jepang itu.

Menurut Iqbal Djawal, Atase Pendidikan, yang ikut dalam ramah tamah ini, Yusron merupakan satu-satunya dubes yang alumnus sekolah di Jepang dan fasih berbahasa Jepang.

"Bahasa Jepang beliau bahasa halus," kata Iqbal. Dalam berbagai jumpa pers yang dihadiri wartawan Jepang, Yusron juga kerap menjawab pertanyaan wartawan Jepang dengan bahasa Jepang.

Ramah tamah berlangsung hangat sekitar 1 jam, dari pukul 16.00 hingga pukul 17.00. Rombongan komunitas tenis memberikan apresiasi dan mengucapkan terima kasih atas kesediaan Yusron menerima rombongan di tengah kesibukannya.

Foto bersama Dubes Yusron Ihza usai ramah tamah (Arifin Asydhad/detikcom)



Setelah ramah tamah, Yusron juga mengajak rombongan untuk berkeliling dan melihat-lihat Wisma KBRI, yang merupakan kediaman resmi dubes.

Wisma ini berada dalam satu kompleks dengan kantor KBRI, namun memiliki gerbang berbeda. Yusron bercerita dirinya lebih sering ke kantor dengan berjalan kaki lewat jalan belakang daripada naik mobil, karena waktunya bisa lebih hemat.

Yusron Ihza saat menjelaskan Wisma Dubes di halaman rumah (Foto: Arifin Asydhad/detikcom)


Yusron mengatakan tanah di kompleks dan wisma menjadi milik Indonesia sejak tahun 1950-an dan berada di kawasan elit. Kantor KBRI beralamatkan di 2-9 Higashi-Gotanda 5-chome, Shinagawa-ku, Tokyo.

"Dulu Putri Akihito memiliki rumah di sekitar kawasan ini. Jadi saya bersyukur KBRI dan wisma kita ini berada di kawasan yang strategis," kata Yusron.

Wisma KBRI berarsitektur gaya Jepang dengan terdiri tiga lantai dan memiliki halaman yang luas nan asri. Ruangan dalam Wisma juga tampak indah dengan ornamen-ornamen Jepang dan Indonesia. "Saya sering menerima tamu penting di sini," kata Yusron. Yusron mengajak rombongan untuk berfoto bersama di depan kediamannya yang asri.

Berfoto bersama di depan Wisma Dubes RI di Tokyo (Foto: Arifin Asydhad/detikcom)
(asy/fdn)