"Memang kami menemukan korelasi pelaksanaan kebijakan politik. Pasca Pemilu 2009, setelah itu ada sekitar 14,7 hektare penerbitan lahan yang dibuka untuk sawit, tambang, industri, HPA. Ini dilakukan karena kepentingan politik," ujar Manajer Kampanye Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Zenzi Suhadi dalam talk show di Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu (10/10/2015).
Dia menambahkan, setelah pemilu cenderung pembukaan lahan meningkat. Izin biasanya lebih mudah diterbitkan, setahun kemudian pembukaan lahan meningkat signifikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk Riau, Kalimantan per Agustus 2014 itu sudah 1 juta hektar lebih yang dibuka. Daerah-daerah mestinya menguatkan pembentukan izin, ini yang harus direalasikan. Kalau tidak sulit mengatasi pembakaran ini," sebutnya.
"Selanjutnya saya melihat ada tiga peningkatan dari tahun ke tahun. Frekuensi satu tahun pasca penerbitan ini membuat ekosistem, lahan gambut juga menjadi rusak," tuturnya.
Pemerintah pusat dan daerah menurutnya harus menciptakan terobosan untuk bisa menghentikan skenario dari pelaku yang mencari keuntungan dari bencana asap ini.
"Semakin meningkat untuk bencana asap di Indonesia. Maka pemerintah perlu mengambil langkah-langkah kuat untuk bisa menghentikan skenario kejahatan ini," paparnya.
(imk/tor)











































