"Kayak tadi saya katakan, pasti 2015 saya santai saja mereka enggak suka dengan saya ketatin duit ini pasti enggak suka. Ya sudah enggak apa-apa 2016 ini kita beresin, 2016 ini DPRD kawal KUA PPAS. Jadi diturunin semua angkanya," kata Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (9/10/2015).
Ahok bahkan sempat berseloroh Kemendagri khawatir dengan keberhasilan dirinya mengelola APBD 2016. Sebab bila dia berhasil, maka terbuka peluang besar untuk terpilihnya kembali di 2017.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Enggak apa-apa juga, saya mah santai saja gitu loh. Yang penting ini semua dilakukan secara transparan, kalau mereka punya kepentingan masyarakat bisa ngikutin apa yang terjadi gitu loh," kata dia.
Mantan Bupati Belitung Timur itu juga bertanya-tanya mengapa baru kali ini kementerian mempermasalahkan APBD-P yang diajukan DKI. Kemudian berlanjut pada perang dingin dengan DPRD yang mengakibatkan adanya kemunculan APBD 2015 versi dewan.
"Kenapa dulu sudah salah BPKP temukan ada APBD siluman kok di Kemendagri enggak pernah ributin ya, itu pertanyaannya. Itu sama kayak zamannya Pak Foke (Fauzi Bowo). Beda dengan sekarang yang prosesnya benar kita ikutin," urai Ahok.
"Terakhir katanya kan masih menunggu lagi hasil paripurna pertanggungjawaban 2014, sekarang itu sudah selesai. Kan katanya lagi Mendagri enggak bisa terima kalau enggak ada tanda tangan ketua, ketuanya hilang enggak tanda tangan. Ya kamu terjemahin sendiri lah maksudnya apa," sambung dia.
Ahok kerap dikritik karena selama ini serapan anggaran DKI dinilai paling rendah. Menurutnya, hal yang sama juga terjadi di daerah-daerah lain namun tidak dipermasalahkan layaknya DKI.
Walaupun begitu, Ahok menerima kalau dirinya harus melewati fase ribut-ribut dengan berbagai pihak untuk memperbaiki sistematis APBD. Terlebih, DKI Jakarta merupakan Ibu Kota yang sudah sepatutnya menjadi contoh bagi daerah-daerah lain.
"Cara saya gimana ya lawan terus, butuh proses dan butuh sebuah etalase untuk mempertontontkan jadi kepala daerah harus keras saja sudah, bertahan saja sendiri lawan gitu loh, lawan saja terus. Anda cuma ada 2 pilihan kok, mau mengeluarkan Rp 12,1 triliun untuk beli scanner, UPS, elektonik? Enggak lucu, tergantung kuat-kuatan saja," terang Ahok.
"Makanya kemarin ada yang tanya saya apa kesulitan terbesar yang dihadapin di DKI? Saya sendiri. Saya enggak boleh roboh. Adu kuat saja di sini enggak boleh pakai otak pakai otot," pungkasnya. (aws/erd)











































