Kabar terbaru berkaitan ketidaknyamanan sopir angkot Cicaheum-Cibaduyut diungkapkan seorang penumpang, Ade Rohmat (22). Dia mengaku dibogem oknum sopir angkot tersebut gara-gara menagih uang kembalian. Meski begitu, Ade tak memilih melapor kepada polisi, dia malah berkisah di Twitter. Netizen langsung bereaksi dengan aneka komentar berkaitan kiprah angkot 05.
Foto: Baban Gandapurnama |
Pada Jumat siang (9/10/2015), detikcom menjajal angkot 05. Pergi dan pulang menumpangi angkot jurusan tersebut dengan berbeda sopir.
Terik menyengat. Angkot 05 sarat penumpang menepi perlahan di pinggir Jalan Soekarno Hatta atau depan kampus LPKIA saat lengan kanan ini menjulur. Kursi depan atau samping sopir masih kosong jadi pilihan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bentar ya, di depan neng," kata sopir bernada ramah sembari melirik spion kiri yang nampak beberapa kendaraan dari arah belakang memperlambat lajunya.
Perempuan itu menyodorkan dua lembar uang pecahan Rp 2.000. Sopir kembali meneruskan perjalanan dengan kecepatan santai. Beberapa saat kemudian, dua penumpang lainnya turun sebelum prapatan JalanSoekarno Hatta - Jalan Moch. Toha. Sopir memberikan uang kembalian sambil berucap, "hatur nuhun (terima kasih)."
Sopir yang mengaku bernama Hari (35) ini tidak mengetahui kabar soal oknum sopir angkot 05 yang disebut-sebut memukul seorang penumpang. "Saya enggak tahu. Enggak ada infonya," ucap pria warga Rancamayar, Kabupaten Bandung.
"Begituan mah oknum sopir," katanya menambahkan.
Hari banyak bercerita soal kondisi segelintir oknum sopir angkot 05. Mulai dari perilaku temperamental hingga tarif ongkos yang selangit alias tak normal. "Pernah waktu saya jadi kernet, ada sopir yang melempar uang kembalian ke wajah penumpang karena terus menagih. Sebenarnya enggak mesti begitu sopirnya," ucapnya.
"Terus ada sopir, masih anak muda dan enggak punya SIM, dia narik penumpang dari Leuwipanjang ke Kiaracondong. Waktu itu malam hari. Penumpang membayar Rp 10 ribu, padahal tarif normalnya empat ribu rupiah. Nah, kelakuan sopir-sopir begitu yang mencoreng," kata Hari.
Dia tiba-tiba menghentikan angkot setelah melihat seorang perempuan berdiri di pinggir jalan kawasan Inhoftank dengan mimik kebingungan. "Bade kamana bu (mau ke mana bu)?" tanya Hari berbahasa Sunda.
"Bade ka Pasar Caringin (mau ke Pasar Caringin). Ieu angkot ka Caringin (ini angkot ke Caringin)," jawab si ibu tadi.
Sang sopir mengajak si ibu itu untuk naik angkotnya. Sebab menuju ke Pasar Caringin mesti naik angkot jurusan lainnya dari Leuwipanjang. "Naik Ieu heula bu, engke turun di Leuwipanjang. Engke naik angkot nu ka Caringin (Naik angkot ini dulu bu, nanti turun di Leuwipanjang. Nanti naik angkot lainnya yang ke arah Caringin)," tutur Hari.
Ibu itu akhirnya menuruti pengemudi angkot 05 tersebut. Setiba di lampu merah Jalan Soekarno Hatta - Jalan Cibaduyut, detikcom berhenti. Duit Rp 10.000 yang diberikan detikcom mendapat kembalian Rp 6.000 dari Hari.
Sepanjang perjalanan, sekira lima kilometer ini berlangsung aman. detikcom lalu balik arah menggunakan angkot 05 lainnya.
Angkot ini ngetem di belokan Jalan Soekarno Hatta arah dari Leuwipanjang yang terdapat rambu leter S atau dilarang berhenti. Enam penumpang sudah berada di dalam. Butuh waktu lima menit bagi sopir untuk mengangkut seorang penumpang lagi.
"Kiaracondong," kata sopir menegaskan rute tujuannya kepada seliweran orang.
Siswa SMP lalu naik, lalu sopir tancap gas. Baru 500 meter, siswa SMP itu berteriak, 'Kiri Pa."
Selembar uang Rp 2.000 diserahkan ke sang sopir. Tanpa banyak komentar, sopir melanjutkan perjalanan berkecepatan pelan. Sopir tidak menjalankan secara ugal-ugalan, kendaraan berhenti saat penumpang meminta turun.
Satu per satu penumpang turun, nampak tidak ada perdebatan soal ongkos tarif angkot. detikcom turun di prapatan Jalan Soekarno Hatta - Jalan Cijagra (seberang perumahan Batununggal). Duit Rp 5 ribu diterima sopir paruh baya tersebut. Dia menyerahkan uang kembalian Rp 1.000 dengan dua uang logam Rp 500. Total ongkos angkot pulang pergi selama mencoba menumpangi angkot jurusan Cicaheum-Cibaduyut itu Rp 8 ribu. (bbn/mad)












































Foto: Baban Gandapurnama