Angkot jurusan Cicaheum-Cibaduyut tengah disorot publik. Curhat seorang penumpang yang mengaku dipukul oknum sopir angkot tersebut ramai diperbincangkan di media sosial twitter. Respons geram serta komentar pedas dilontarkan netizen hingga tagar @UsutTuntasAngkot05 menjadi trending topic. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menyebut angkot 05 paling berengsek.
Lalu seperti apa pandangan para penumpang angkot berciri nomor 05 atau dikenal 'Nol Lima' itu?
"Enggak semua sopir angkot 05 galaklah atau sulit diatur saat di jalan raya. Selama ini pakai angkot 05 belum pernah merasa ada masalah, terutama soal tarif angkot," ujar Rochmat (28), saat ditemui di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Jumat (9/10/2015).
Angkot 05 (foto: Baban Gandapurnama) |
Soal adanya kisah penumpang yang dipukul sopir angkot 05, Rochmat menyimaknya di jagat maya. Namun, menurut pegawai swasta ini, bukan berarti seluruh pengemudi angkot Cicaheum-Cibaduyut kerap berulah tak menyenangkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski begitu, Rochmat mengakui ada saja perilaku tidak disiplin yang saban hari diperlihatkan sejumlah sopir angkot 05. Contohnya, kata dia, ngetem di sembarang tempat hingga ugal-ugalan saat berkendara. "Tapi kan sopir angkot jurusan lainnya di Bandung juga sering begitu kok. Banyak yang enggak disiplin berlalu lintas," tuturnya.
Dia berharap suara keras Wali Kota Bandung Ridwan Kamil bisa terealisasi. "Saya meminta agar Pak Emil menelaah kembali. Berikan peringatan keras, kalau tetap masih banyak komplain, ya silakan dibekukan," kata Rochmat.
Berbeda dirasakan Leni (26). Dia salah satu angkoter yang rutin menumpang angkot 05. "Sopirnya kan beda-beda. Ada yang baik dan disiplin, ada juga yang seenaknya ngejalanin angkot sambil ngebut. Paling kesal itu kalau ngetem lama, terus diklaksonin mobil lainnya karena bikin macet," ucap Leni yang bekerja kantoran di kawasan Cibaduyut.
Leni mengaku pernah memiliki pengalaman kurang menyenangkan dari oknum sopir 05. Terutama soal rute yang tidak tuntas ke tempat tujuan. "Waktu itu sopirnya menurunkan saya dan tiga penumpang lainnya di daerah Batununggal (Jalan Soekarno Hatta), padahal saya tujuan pulang ke daerah Kiaracondong. Ya terpaksa naik angkot lain. Jangan karena penumpang sedikit, lalu sopir 'Nol Lima' malas mengantarkan," tutur Leni.
Pengalaman lain diceritakan Nurman (30). Dia mengeluhkan tarif angkot 05 yang tak kompak. "Siang itu pernah saya naik 'Nol Lima' dari Leuwipanjang ke Kiaracondong, tarif normalnya kan empat ribu rupiah. Beberapa hari kemudian, malam hari, saya naik 'Nol Lima' dengan rute sama, turun di tempat tujuan itu sopirnya minta tarif 10 ribu rupiah," kata Nurman.
Dia sontak terkejut. Oknum sopir 05 terus memaksa. "Saya sempat bersitegang. Tapi enggak sampai adu fisik. Saya tetap bayar empat ribu rupiah, kan tarifnya segitu. Sopirnya langsung pergi sambil menggerutu," ujar Nurman.
"Tugas istansi terkait dan pengurus angkot 'Nol Lima' yang seharusnya membina para sopir angkot Cicaheum-Cibaduyut agar disiplin. Sehingga gesekan dengan penumpang tidak perlu terjadi," ucap Nurman menambahkan.
Dalam catatan Dishub Kota Bandung, armada tayek 05 berjumlah sekitar 200 unit angkot. Dishub mengakui memang banyak keluhan dari masyarakat terkait angkot yang berwarna merah ini.
"Memang banyak yang mengeluhkan. Terutama terkait trayek yang tidak sampai tujuan," ujar Sekretaris Dishub Kota Bandung Enjang Mulyana, Kamis (8/10/2015).
Menurut Enjang, memang memungkinkan untuk dilakukan pembekuan trayek angkutan umum di Kota Bandung. "Kalau sudah banyak keluhan terhadap trayek tersebut, bisa dilakukan pembekuan," ujar Enjang. (bbn/mad)












































Angkot 05 (foto: Baban Gandapurnama)