Prajurit Marinir Bahu-membahu Padamkan Kebakaran di Hutan Lindung Tangkoko

Bencana Kabut Asap

Prajurit Marinir Bahu-membahu Padamkan Kebakaran di Hutan Lindung Tangkoko

Herianto Batubara - detikNews
Jumat, 09 Okt 2015 10:16 WIB
Prajurit Marinir Bahu-membahu Padamkan Kebakaran di Hutan Lindung Tangkoko
Foto: Dispen YONMARHANLAN VIII Bitung
Bitung - Ratusan hektar hutan lindung Tangkoko, Bitung, Sulawesi Utara, ternyata juga mengalami kebakaran hebat. Satu pleton (30-50 orang) prajurit Marinir pun bahu membahu memadamkan api.

Dalam rilis yang diterima detikcom, Jumat (9/10/2015), Komandan Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan(Danyonmarhanlan) VIII Bitung Mayor Marinir Istepanus Ginting mengirimkan 1 Satuan Setingkat Peleton (SST) prajurit untuk memadamkan api. Mereka bekerjasama dengan BNPB Kota Bitung.
Apel sebelum pemadaman api (Dispen Marinir Bitung)


Para prajurit Yonmarhanlan VIII Bitung di bawah pimpinan Letda Marinir Sulistiyo pun berusaha keras memadamkan api. Kebakaran hebat di hutan lindung Tangkoko ini telah menghanguskan ratusan hektar hutan sejak 07 Oktober 2015.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mayor Marinir Istepanus Ginting mengatakan, kebakaran hutan yang hampir tiap tahun terjadi ini merupakan salah satu ancaman terhadap kelestarian hutan di Indonesia. Kebakaran ini mengakibatkan berbagai kerusakan yang sangat merugikan manusia.
Prajurit Marinir berjibaku padamkan api (Dispen Marinir Bitung)


Peristiwa kebakaran hutan ini, lanjut Istepanus, pada umumnya terjadi pada musim kemarau, terutama pada musim kemarau yang panjang. Untuk tahun ini Provinsi Sulawesi Utara mengalami bencana kebakaran hutan yang sangat memprihatinkan.

"Terdapat beberapa hutan lindung di gunung-gunung mengalami kebakaran hebat salah satunya hutan lindung Tangkoko (Gunung Tangkoko)," ucapnya.
Para prajurit berjuang memadamkan api (Dispen Marinir Bitung)


Hutan lindung Tangkoko yang terletak di Kota Bitung menyimpan beberapa spesies langka dan dilindungi. Di antaranya tarsius, kuskus (ailurops ursinus), kuskus kerdil (strigocuscus celebensis), anoa, dan musang Sulawesi (macrogalidia musschenbroekii). (hri/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads