Silakan Lapor ke Salah Nomor
Selasa, 01 Mar 2005 12:28 WIB
Jakarta - "Silakan lapor ke Call Center BBM. Masyarakat bisa melaporkan penyelewengan, korupsi dana kompensasi BBM, dan apa saja selain BBM. Laporkan kepada kami," kata Menteri Komunikasi dan Informatika Sofyan Djalil dengan sangat percaya dirinya ketika peluncuran Call Center Jumat lalu (25/2/2005). Namun apa yang terjadi, ternyata Call Center itu salah nomor. Nomor pengaduan lewat SMS 5678 sudah dimiliki orang lain. Sesuatu hal yang lucu memang, jika lembaga negara sekelas Kementerian Komunikasi dan Informatika bisa tidak mengetahui jika nomor itu sudah dipakai orang.Padahal kata Sofyan Djalil, pembuatan Call Center BBM ini juga melibatkan Telkom secara langsung dalam bentuk kerja sama. "Kita sudah punya alat Call Center, jadi tinggal kita pindahkan. Kita juga punya operator sendiri. Dan kita sudah sangat siap, apalagi didukung oleh Telkom," katanya kepada wartawan usai peluncuran. Pernyataan Sofyan Djalil seperti memberi harapan kalau Call Center akan mampu berfungsi sebagai wadah aspirasi dan pengaduan bagi masyarakat. Untuk "membumikan" Call Canter tersebut bahkan Kementerian Komunikasi dan Informatika telah mengiklankannya lewat televisi, koran dan media elektronik lainnya.Sejumlah pejabat penting dan menteri pun terlihat dalam acara peluncuran tersebut. Bahkan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Sri Mulayani memberikan support yang tinggi atas diluncurkannya Call Center itu. Saat peluncuran, terlihat juga sejumlah operator di ruangan Call Center yang terlihat "sibuk" menerima telepon dan memandangi layar komputer yang berisi data yang menyangkut kompensasi dana BBM.Sofyan pun usai peluncuran mengajak para tamu dan undangan untuk menikmati makanan kecil yang sudah disiapkan sebelumnya. Di situlah dia bercerita betapa pentingnya keberadaan Call Center tersebut. Para tamu pun tampak mengangguk-anggukkan kepala atas penjelasan menteri yang dikenal dekat dengan Wapres Jusuf Kalla ini.Sungguh ironi, di saat harga BBM telah dinaikkan oleh pemerintah ternyata fasilitas penunjangnya malah tidak dapat digunakan. Padahal, pemerintah telah berjanji untuk lebih transparan dalam penyaluran dana kompensasi pencabutan subsidi BBM itu. Semoga ini bukan menjadi awal yang buruk dari niat pemerintah untuk mengubah pola subsidi BBM dari secara tak langsung menjadi langsung dengan menaikkan harga BBM.Terkait:Nomor SMS 5678 Milik Gunadarma
(mar/)











































