"Kalau ribut sedikit saya sudah biasa. Ini sudah saya kurangi. Tapi memang nasib saya dimarahi dan memarahi," ujar Ahok saat memberi sambutan dalam acara Penandatanganan Nota Kesepahaman Perum Perumnas & PT Jakarta Propertindo di Kementerian BUMN, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (8/10/2015).
Tentu saja ucapan spontan Ahok itu mengundang tawa Menteri PU Basuki Hadi Muljono dan Menteri BUMN Rini Soemarno. Ahok mengaku tidak jarang dirinya berselisih paham dengan Kementerian PU soal pembangunan rumah susun (rusun). Begitu pula dengan warga yang tergusur.
Sementara dia juga tidak jarang terlihat marah-marah kepada jajarannya yang 'tidak bisa ikut berlari' dengan program dia. Menurut Ahok, pihaknya kerap diharuskan ngebut membangun rusun untuk ditempati warga sebelum melakukan normalisasi. Sementara batas waktu yang tersedia tidak jarang terbilang singkat.
"Ciliwung yang masih kami harus pindahin masih ada 35 ribu bidang, bukan kk (kepala keluarga) loh ini. Kira-kira kita mau bangun lagi 50 ribu unit rusun untuk normalisasi. Kalau enggak nanti PU marah-marah sama saya anggarannya sudah mau habis belum ada. Begitu juga warga marah-marah yang kena normalisasi," lanjutnya.
Dalam kesepakatan itu, Ahok juga mengungkapkan tidak perlu mengkhawatirkan berapa banyak uang yang harus digelontorkan untuk membangun pembangunan. Menurutnya, yang terpenting saat ini adalah pembangunan demi menuju Jakarta Baru yang lebih baik.
"Bapak harus berpikir seperti konglomerat urusan uang nomor 2. Berpikir mana yang mau dibangun buat Jakarta," tutup Ahok. (aws/hri)











































