Usai Dampingi Jokowi ke MRT, Ahok: Semua Nanti Terintegrasi

Usai Dampingi Jokowi ke MRT, Ahok: Semua Nanti Terintegrasi

Ayunda Windyastuti Savitri - detikNews
Kamis, 08 Okt 2015 11:32 WIB
Usai Dampingi Jokowi ke MRT, Ahok: Semua Nanti Terintegrasi
Presiden Jokowi dan Gubernur Ahok saat meninjau MRT (Foto: Ray Jordan/detikcom)
Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) pagi tadi mendampingi Presiden Jokowi meninjau langsung pembangunan Mass Rapid Transit (MRT). Ahok menargetkan seluruh transportasi di Ibu Kota nantinya terintegrasi dengan baik.

"Semua terintegrasi. Jadi desain kami sekarang semua, seperti Light Rail Transit (LRT) dan MRT kalau dia (terpaut) jarak jauh pun kita akan bangun jembatanย  penyebrangan dan ada semacam tokonya," ujar Ahok usai meninjau MRT di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (8/10/2015).

Ahok ingin nantinya moda transportasi kereta berjenis commuterline dan kereta antar kota juga saling terintegrasi. Oleh karena itu, dia berwacana ingin menambah depo Stasiun Gambir yang selama ini hanya melayani kereta antar kota.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perluasan stasiun itu bisa menggunakan lahan samping Gambir, yaitu Monumen Nasional (Monas). Dengan begitu kereta commuterline dan MRT serta LRT juga bisa berhenti di Stasiun Gambir.

"Gambir saya sudah minta sama Dirut (KAI)-nya kita minta dia bangun lagi tambahan karena Gambir hanya buat luar kota, yang KCJ-nya enggak bisa (berhenti di sana). Jadi orang turun mesti naik taksi. Padahal dia ingin ke Stasiun Juanda, Stasiun Kota nanti bisa (juga disambung) sampai BSD," lanjutnya.

"Kita kasih perluasan ke dalam Monas supaya nanti terintegrasi semua. Jadi LRT mau nyambung ke sana pakai jembatan lagi di Kebon Sirih," imbuh Ahok.

Ahok juga mengaku senang atas ketersediaan Jepang untuk mengalihkan fungsi teknologi kepada teknisi lokal setelah 2 bulan pembangunan MRT. Begitu pula dengan tanggapan Presiden Joko Widodo.

"Sudah jalan dua bulan nanti semua diserahkan pada teknisi kita untuk kerjain, 1-2 bulan saja dikerjakan oleh Jepang. Jadi ada ahli teknologi itu Presiden yang senang dan itu juga yang disampaikan Presiden," kata dia.

"Regulasi nanti nyusul kita cepatin. Kan ini kan barang baru dan peradaban baru kita. Ada berapa orang Indonesia yang pernah kerja di Singapura dan Malaysia kita tarik juga," pungkasnya.

(aws/slm)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads