16 Hari di Hutan Perawan, Begini Cara Peneliti Temukan Tikus Hidung Babi

ADVERTISEMENT

16 Hari di Hutan Perawan, Begini Cara Peneliti Temukan Tikus Hidung Babi

Rachmadin Ismail - detikNews
Kamis, 08 Okt 2015 10:43 WIB
Foto: dok. Anang S Achmadi dan Museum of Victoria
Jakarta - Tidak mudah bagi para peneliti untuk menemukan tikus hidung babi atau Hyorhinomys stuempkei. Mereka menghabiskan waktu berhari-hari di pedalaman hutan Sulawesi, hingga akhirnya bisa menangkap lima sampel. Bagaimana ceritanya?

Anang S Achmadi, peneliti dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, terlibat langsung dalam penelitian tersebut. Dia berada di tengah hutan bersama dengan Jacob A. Esselstyn (Lousiana State University), Kevin C. Rowe (Museum Victoria Australia), dan Heru Handika (Alumnus Universitas Andalas).

Anang dan para peneliti lain (dok. Anang S Achmadi)

Peneliti dan kurator koleksi mamalia Museum Zoologi Bogor ini sudah mempersiapkan jauh-jauh hari sebelum terjun ke pedalaman Gunung Dako, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah. Sebulan sebelum berangkat, mereka menggelar riset literatur, mengurus perizinan sampai perbekalan.

Hingga akhirnya tiba waktunya berangkat ke lokasi sekitar bulan Januari 2015 lalu. Lima peneliti berangkat ke hutan perawan bersama bantuan sejumlah orang lokal. Ada yang bertugas sebagai pembawa barang, penunjuk jalan, dan membantu ketersediaan perbekalan.

"Kita membutuhkan orang lokal. Namun memang kadang karena keterbatasan bahasa, di sana mereka belum banyak yang lancar berbahasa Indonesia, terutama di Desa Dako, jadi kita juga dibantu oleh orang Kolaka, Sulawesi Tenggara," kata Anang saat berbincang dengan detikcom, Kamis (7/10/2015).

dok. Anang S Achmadi


Menurut Anang, kawasan yang didatanginya harus hutan yang tidak banyak terjamah manusia atau hutan perawan. Hutan tersebut sedikitnya harus kosong selama 30 tahun terakhir. Di sanalah, kemungkinan spesies-spesies baru tikus yang memang dicarinya berada.

"Yang paling berat itu saat 8 jam high up, itu benar-benar naik gunung. Itu yang paling berat," terangnya.


dok. Museum of Victoria


Selama perjalanan, Anang dan peneliti lainnya tidak jarang mengalami luka. Mereka sering terpeleset hingga berdarah. Jatuh di sungai yang licin. Berdarah-darah kena rotan dan insiden kecelakaan lainnya.

"Masing-masing pasti pernah punya pengalaman kecelakaan, tapi dengan adanya penemuan ini kita merasa kerja keras kita terbayar," jelasnya.

Sesampainya di lokasi yang dituju, tepat di ketinggian 1,600 mdpl di Gunung Dako, Kabupaten Tolitoli, tim memasang sejumlah perangkap untuk menangkap tikus. Ada tiga jenis yang digunakan, mulai dari perangkap mati, lalu perangkap dengan ember yang dipasang pembatas dengan terpal, lalu memodifikasi perangkap lokal yakni dengan jerat.

"Tikus kan biasanya beraktivitas malam hari. Kita pasang perangkap sore hari, lalu paginya kita cek," terangnya.

Museum of Victoria


Tim akhirnya menemukan lima ekor tikus hidung babi setelah berhari-hari memasang perangkap. Kepada BBC, kurator mamalia Museum Victoria, Kevin Rowe, mengungkapkan, betapa bahagianya dia saat menemukan spesies baru tersebut.

"Kami sudah memasang perangkap selama berhari-hari. Ketika ada yang terperangkap, yang saya temukan adalah spesies tikus yang benar-benar baru," cerita Rowe.

"Saya langsung berteriak, ketika tahu hewan ini spesies baru," sambungnya.

Tikus yang ditangkap dalam keadaan sehat dengan perut kenyang. Beratnya sekitar 250 gram. Sampel tikus itu kini berada di Amerika Serikat untuk diteliti. Rowe juga mengklaim keunikan tikus spesies baru itu jauh melebihi ekspektasinya.

"Jelas sekali lubang hidungnya yang menyerupai hidung babi, sangatlah unik. Namun, Hyorhinomys juga punya muka panjang dan telinga yang lebih besar dibandingkan kebanyakan tikus. Selain itu bentuk gigi bawah hewan ini lebih mirip gigi bawah celurut," ungkapnya.

"Tikus ini juga memiliki rambut kemaluan yang sangat panjang, yang biasa ditemukan pada mamalia Australia lainnya," ceritanya lagi. (mad/nrl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT