Perusahaan industri pertahanan Amerika Serikat Lockheed Martin (LM) menawarkan pesawat tempur F-16 Viper yang merupakan produk termutakhir mereka. Dalam kesempatan tersebut, simulator kokpit F-16 Viper dibawa agar para tamu bisa mencobanya.
Dipandu oleh chief test pilot LM, Paul Randall, puluhan tamu undangan yang hadir dalam acara peragaan kokpit F-16 di Grand Hyatt, Jakpus, Rabu (7/10/2015) semangat untuk mencobanya. Satu persatu bergantian mencobanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
"Simulator ini persis seperti kokpit pesawat. Kamu di sini bisa merasakan seperti pilot saat menerbangkan F-16," ujar Paul saat memandu tamu yang mencoba simulator.
Alat demonstrasi sendiri besarnya seperti kokpit pesawat F-16. Di depan simulator kokpit dibentangkan layar lebar yang menggambarkan saat pilot berada di udara dengan pemandangan daratan maupun laut di bawahnya.
"Alat ini namanya stick (tongkat) atau kami biasanya menyebut sebagai controller. Gunanya bisa sebagai kendali ketika kamu mau belok atau naik dan turun," kata Paul saat detikcom mencoba simulator tersebut.
Di stick yang berada di sisi kanan itu terdapat tombol-tombol, termasuk untuk menembakkan peluru. Tak ada alat setir di dalam kokpit. Untuk menerbangkan dan mengendalikan pesawat, pilot menggunakan controller dan juga satu stick lainnya di sisi kiri yang bisa digunakan sebagai mouse.
"Ini bisa terhubung dengan komputer. Kami bisa mengatur misil yang akan ditembakan dengan ini," tuturnya
Di dalam kokpit terdapat banyak perangkat atau avionik. Seperti peralatan transfer data yang canggih, GPS, alat komunikasi dan juga radar yang menjadi unggulan pesawat ini yakni Active Electronically Scanned Array (AESA).
![]() |
Paul yang berdiri di sisi samping kokpit menjelaskan mengenai jarak bagaimana teknik menerbangkan pesawat termasuk berbagai instrumen pesawat tempur. Salah satu layar di kokpit menjelaskan pemindaian keadaan yang ada di sekitar pesawat saat di udara. Sehingga jika visual tidak tertangkap mata telanjang dari dalam kokpit pilot bisa mengetahui keadaan sekitarnya.
"Helm yang digunakan pilot ada proyektornya. Bisa berkomunikasi dengan pilot lain yang sedang terbang dan juga ke ATC. Radar bisa mengunci 21 target," jelas Paul.
Keunggulan Viper adalah memang dapat membidik banyak target sekaligus baik yang berada di udara, laut, dan darat. Juga dilengkapi dengan night vision imaging system, dan wide angle conventional heads up display.
Hadirin yang menjajal simulator ini dapat merasakan bagaimana menukik, bermanuver, maupun melepaskan misil dari atas pesawat tempur. detikcom berhasil menumbangkan 2 target yang ada di udara dalam demonstrasi ini. Namun tak sedikit pula tamu undangan yang salah saat melepaskan misil maupun tembakan.
Salah seorang anak lelaki berusia 10 tahun mencoba sensasi menerbangkan F-16 dengan simulator ini. Alra Fatara Ardika Basya mengaku cukup terinspirasi setelah mencobanya.
"Aku deg-degan sampai nggak bisa bicara. Ini baru pertama kali. Stick yang untuk tembakan bisa bergerak-gerak sendiri. Tadi aku dikasih tahu kalau mau belok harus gimana. Terus kalau ada tanda-tanda musuh kayak apa," tutur Alra usai menjajal simulator.
"Tadi sama pilotnya dikasih tahu kalau beneran di pesawat harus pakai tabung sama helm, kalau tadi kan nggak. Terus Kalau ketemu musuh kita harus menjauh dulu sebelum menembak," lanjut siswa kelas V SDN 01 Pagi Bintaro itu.
Alra sendiri datang bersama sang ibu yang mendapat undangan acara ini. Setelah mencoba simulator F-16, Alra mengaku punya cita-cita baru.
"Aku mau jadi penerbang pesawat tempur. Pengalaman ini menarik banget," tukasnya.
Tak hanya Alra, bahkan Dubes Amerika Serikat untuk Indonesia Robert O Blake juga sempat mencoba simulator ini. Sejumlah pewarta juga tak mau ketinggalan dengan turut mengantri di belakangnya
Sejumlah petinggi Lockheed Martin datang langsung dalam acara ini. Mereka menawarkan F-16 Viper sebagai salah satu alternatif pengganti pesawat tempur F-5 Tiger yang akan segera dipensiunkan. Varian terbaru F-16 ini dianggap mampu menambah kekuatan pertahanan udara Indonesia, termasuk menjaga daerah-daerah perbatasan seperti Natuna yang rawan akan konflik Laut Cina Selatan.
Lalu berapa lama waktu yang diperlukan LM jika Indonesia tertarik untuk membeli Viper?
"Tergantung pemesanannya karena kami juga menyesuaikan keinginan Indonesia seperti apa. Sejak persetujuan, untuk 1 skadron (16 unit) bisa 2-3 tahun (sampai pesawat diserahkan ke Indonesia)," tukas Director International Business Development Asia Pacific Lockheed Martin, Robie Notestine, di lokasi yang sama.
(ear/Hbb)













































