Lihat Salim Kancil Disiksa, Trauma Healling Diberikan Bagi Siswa TK Selok Awar-Awar

Lihat Salim Kancil Disiksa, Trauma Healling Diberikan Bagi Siswa TK Selok Awar-Awar

M Aminudin, - detikNews
Rabu, 07 Okt 2015 16:46 WIB
Lumajang - Aktivitas di Taman Kanak-Kanak (TK) Dharma Wanita berada satu kompleks dengan Balai Desa Selok Awar-Awar berangsur normal. Trauma sempat menghampiri para siswa ketika penyiksaan sadis dialami Salim Kancil oleh Tim 12 pada 26 Oktober 2015.

Trauma healling gencar dilakukan Polda Jatim dan Pemprov dengan menurunkan tim psikolog untuk memberikan pendampingan bagi para siswa. Sebanyak 85 siswa bersekolah di lembaga pendidikan berada satu tempat dengan balai desa itu.

Pagi itu, beberapa siswa sudah hadir bersiap menimba ilmu di akhir pekan. TK dan Pendidikan Usia Dini (PAUD) Anak Bangsa bertempat satu gedung dan hanya berjarak beberapa meter dari pendopo balai desa, tempat dimana Salim dianiaya. Kegaduhan yang terjadi sontak membuat mereka panik dan menghampiri guru yang sudah bersiap di dalam kelas. Setidaknya, tiga siswa melihat dan mendengar langsung perbuatan sadis Tim 12.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada tiga anak yang tahu saat itu, karena belum semua hadir," ucap Kasek TK Dharma Wanita Adminah, Rabu (7/10/2015).

Adminah saat itu tengah kebingungan mengurus anaknya sedang mengalami sakit. Diapun hanya bisa sebentar menengok lembaga pendidikan yang dipimpinnya itu. Karena itu, dia tidak melihat langsung bagaimana peristiwa berdarah itu terjadi. Tetapi, saat kejadian ada tiga siswa yang datang lebih awal dan merekalah yang mengetahui adanya kegaduhan di balai desa.

"Ada Bu Khosidah kemudian berusaha menenangkan anak-anak. Tak lama para orang tua datang dan membawa mereka pulang. Saya datang, belum ada orang dan harus kembali karena anak sakit," ucapnya.

Diakui, trauma sempat menghantui anak didiknya. Sehingga besok (Senin,red) tidak satupun siswa masuk sekolah, kondisi itu berlanjut hingga hari Selasa.

"Para orang tua, kompak ada begini-begini. Hingga takut membawa anaknya ke sekolah. Itu yang jadi alasan," akunya.

Adminah bersama guru lain, akhirnya mendatangi rumah para siswa sore hari. Untuk meyakinkan kepada orang tua agar mereka mau bersekolah.
Awalnya, sulit. Namun, pada Rabu para siswa beransur datang bersekolah. "Pertama masuk, mereka didampingi Babinsa, dan anak-anak sedikit takut. Mungkin masih trauma. Tetapi kemudian bisa pulih kembali sampai saat ini," tuturnya.

Adminah bersama guru lebih memilih fleksibel menyesuaikan dengan kondisi anak didiknya. Jam belajar dengan durasi sekitar 2,5 jam, banyak mengikuti keinginan para siswa. "Kami tanya mereka mau bermain, belajar, atau bernyanyi. Kami menawarkan itu, agar mereka tidak tertekan dengan kejadian sebelumnya," papar Adminah.

Upaya trauma healling memulihkan psikologi anak-anak juga dilakukan tim dari Polda Jatim bersama Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Pemerintah Propinsi Jawa Timur.

Tim psikolog Polda Jatim dipimpin Kabid Humas Kombes. Pol Raden Prabowo Argo Yuwono mencoba berinteraksi dengan anak-anak dan wali murid. Tidak ketinggalan Dio, putra bungsu Salim Kancil ketika itu sempat menyaksikan bapaknya dijemput para pelaku dan dianiaya.

Proses pemulihan ini tidak sekedar dilakukan sehari saja, sampai hari ini tim tetap bertahan di Lumajang dengan menggelar trauma healling secara berkelanjutan. "Upaya stabilitas pasca trauma terus diupayakan. Tim psikolog Polda Jatim bersama unit PPA Polres Lumajang, P2TP2A Pemprov Jatim masih bekerja sampai kondisi psikologi anak-anak dan wali murid benar-benar pulih," kata Kasatreskrim Polres Lumajang AKP Heri Sugiono terpisah.

(dra/dra)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini