Memaksimalkan Lahan Terbengkelai dengan Sistem Budidaya Ikan Sato Umi

Memaksimalkan Lahan Terbengkelai dengan Sistem Budidaya Ikan Sato Umi

Yulida Medistiara - detikNews
Rabu, 07 Okt 2015 14:41 WIB
Memaksimalkan Lahan Terbengkelai dengan Sistem Budidaya Ikan Sato Umi
Foto: Yulida Medistiara
Jakarta - Pemerintah tengah memprioritaskan budidaya ikan untuk kesejahteraan masyarakat pesisir laut. Hal itu diwujudkan dengan program implementasi dan diseminasi konsep Sato Umi melalui pengembangan pendidikan, pelatihan, dan inovasi teknologi budidaya perikanan berkelanjutan di kawasan Techno Park.

"Prinsipnya kegiatan ekonomi jangan sampai merusak lingkungan. Dari konsep Sato Umi ini dampaknya dari kawasan yang tidak produktif bisa ditingkatkan lagi produktifitasnya. Nah ini konsep Techno Park bagaimana mensejahterakan pesisir itu untuk melalui pendidikan dan pelatihan budidaya," ujar Tatang A, Deputi Kepala BPPT Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi di kantornya pada Rabu (07/10/2015).

Konsep Sato Umi ini berbasis sistem bioresirkulasi dengan memaksimalkan lahan tambak terbengkalai (idle). Sistem ini melibatkan masyarakat pesisir untuk dilatih membudidayakan ikan sehingga daerah tersebut produktif menghasilkan ikan. Beberapa peneliti dari Jepang didatangkan untuk melatih masyarakat pesisir dengan konsep tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Diharapkan, Sato Umi ini dapat digunakan untuk meningkatkan produktifitas budidaya ikan dan kesejahteraan ekonomi di daerah. Daerah yang telah menerapkan ialah Karawang, Pekalongan, dan Bataeng Sulawesi Selatan. Selanjutnya di Kepulauan Seribu akan dilakukan uji coba lagi untuk meneraplan Sato Umi ini.

Sebagai contoh, di Pekalongan mengalami penurunan angka kemiskinan karena telah berhasil melakukan budidaya ini. Kota Pekalongan yang dirancang dari konsep techno park ini menjadikan zona ini menjadi lebih berkembang.

"Tadinya masyarakat Pekalongan kalau mencari ikan melaut sampai ke Anambas, akhirnya bukannya menangkap ikan tapi malah membuang-buang BBM. Dengan adanya program ini justru membuat mereka bisa membudidaya ikan dan lebih sejahtera," imbuh Tatang.

Sementara itu Haris Sidharcahya , Kepala Dinas Pertanian Peternakan dan Perikanan Kota Pekalongan menceritakan awalnya budidaya ini. Pemanfaatan budidaya ini menggunakan lahan idle yang terbengkalai pada lahan satu hektar. Kini lahan tersebut sudah berkembang menjadi 70 hektar yang berisi udang faname, rumput laut, dan ikan nila salina di dalam satu tambak.

"Budidaya menggunakan air payu karena adanya air rob yang meninggi sehingga dikhawatirkan akan menenggelamkan kota Pekalongan. Disinilah kita dan BPPT melihat dalam konsep Sato Umi banyak konsep-konsep seperti ikan nila salina yang sudah diterapkan," kata Haris.

Ia menambahkan, budidaya ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir misalnya pemanfaatan pohon bakau untuk dibuat pewarna alam, sirup magrove yang dibuat oleh wanita nelayan. Selain itu keuntungan antara pengelola tambak dan nelayan telah dibagi sesuai dengan perjanjian.

"Ini lah nanti diharapkan ada pembudidayaan di kabupaten yang punya pesisir. Di Pekalongan, masyarakatnya mau menerima konsep ini. Setiap bulannya para nelayan dan pengelola tambak berbagi keuntungan sesuai dengan kesepakatan pembagian persennya," kata Haris.

Pemerintah melalui BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknokogi) bekerjasama dengan International EMECS (Environmental Management of Enclosed Coastal Seas) Center dan PICES (North Pacific Marine Science Organization), MAFF (Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries of Japan) dan FRA (Fisheries Research Agency of Japan). (faj/faj)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads