Jenderal bintang dua ini mengungkap dugaan itu, setelah dirinya mengecek lokasi terakhir korban saat menghilang. Lokasi di sekitar sekolah, menurut Tito adalah tempat yang ramai dan relatif kumuh.
"Artinya kalau ada tindak penculikan dengan kekerasan disana terhadap korban, hampir tidak mungkin karena akan memancing keributan dan pelaku bisa dikormas dengan cepat," kata Tito kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (7/10/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan adanya analisa tersebut, penyidik mempersempit penelusuran dugaan pelakunya yang diduga punya kelainan seksual (paedofil). Sebab, kata Kapolda, kekerasan seksual terhadap anak biasanya dilakukan oleh orang dewasa yang punya kelainan seksual.
"Kami lakukan penyisiran di lokasiitu yang dekat dengan korban, sehingga korban bertemu sevara sukarela. Dan tersangka itu memiliki karakteristik paedofil," katanya.
Untuk mempersempit penyelidikan ini, kata Tito, polisi akan mencari orang-orang dengan karakteristik paedofil. Nantinya, orang-orang tersebut akan didalami dan untuk pembuktiannya akan dites DNA.
"Karena itu kita mempersempit penyelidikan sambill menunggu tes DNA karena ada beberapa jejak DAN pada tubuh korban. Sambil menunggu DNA 1-2 hari ini," tuturnya.
Kapolda menegaskan, pihaknya belum menangkap pelakunya. Namun saat ini, kata dia, ada beberapa orang yang dicurigai yang masih diperiksa intensif sambil menunggu pencocokan hasiltes DNA yang akan mengarah kepada pelaku sebenarnya. (mei/aan)











































