Kedatangan 10 orang Tim DVI dari Mabes Polri memunculkan harapan tinggi dalam proses identifikasi jenazah korban Tragedi Mina. Terutama jenazah yang berasal dari Indonesia supaya kerabat korban di Tanah Air bisa mendapat kepastian.
Lalu bagaimana sepak terjang Tim DVI yang berada langsung di bawah koordinasi Kementerian Kesehatan Arab Saudi?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam jumpa pers yang terakhir pada tanggal 4 Oktober lalu Ketua Tim DVI Kombes Muhammad Mas'udi mengatakan identifikasi akan mudah bila korban dari Indonesia sudah memiliki e-KTP. Data sidik jari yang ada dalam e-KTP bisa membuat jenazah bisa diidentifikasi dalam hitungan menit.
"Asal sudah ada e-KTP satu menit bisa diketahui. Tadi saya sudah menunjukkan saat rapat," tuturnya.
Hingga kini jumlah jemaah yang belum kembali ke kloter terus berkurang berkat identifikasi yang dilakukan oleh tim PPIH. Data terakhir menyebutkan jemaah yang masih belum terdeteksi keberadaannya sebanyak 25 orang.
Direktur Eksekutif DVI Kombes Anton Castilani di Jakarta beberapa waktu lalu mengatakan, ada 10 personel yang akan diberangkatkan ke Saudi Arabia. Mereka terdiri dari 1 orang DVI Commander, 4 spesialis forensik, 2 dokter gigi, 1 orang spesialis DNA, dan 2 orang dari Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (INAFIS) Polri.
Perbantuan ini, kata Anton, adalah inisiatif dari Kementerian Luar Negeri. Kementerian lalu meminta izin pemerintah Saudi untuk mengirimkan tim DVI dalam membantu proses identifikasi.
DVI sendiri bukan kali pertama ikut identifikasi di luar negeri. Terakhir DVI Polri mengidentifikasi korban kapal tenggelam di perairan Malaysia dan identifikasi korban MH 17 yang ditembak jatuh di wilayah konflik Ukraina. (gah/dhn)











































