Desa Selok Awar-awar merupakan salah satu desa tambang pasir di Kecamatan Pasirian, Lumajang, Jawa Timur. Penambangan ini bermula ketika tahun 1998 PT Aneka Tambang mengantongi izin usaha pertambangan eksplorasi. Tetapi, eksplorasi hanya bertahan tiga tahun karena tidak menghasilkan untung. PT Antam menutup tambang.
Setelah itu, berbagai perusahaan antre untuk melakukan eksplorasi. Salah satunya adalah PT Indo Modern Mining Sejahtera (IMMS) yang memiliki izin di Desa Selok. Mereka memiliki lahan konsesi terbesar, seluas 2.744 hektare di enam kecamatan dan 872,6 hektare di satu kecamatan.
![]() |
Perusahaan tersebut juga ditolak oleh warga. Puncaknya pada tahun 2013, saat warga desa Bades, membakar kantor lapangan PT IMMS karena dituding ingkar memberikan dana CSR. Singkat cerita, PT IMMS lalu menghentikan operasi. Namun operasi tambang tetap berlanjut, secara liar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sejak ada backhoe (eksavator) itu. Kurang lebih dua tahun. Ini kan sawah Pak Kancil. Nah, kepala desa bikin parkir motor di situ," kata Tijah, istri Salim.
Sejak itu, pendapatan Salim dan keluarga benar-benar lenyap. Maklum, Salim dan istrinya buta huruf. Ia sempat dijanjikan uang pengganti dan sudah pernah diberi Rp 1 juta, namun setelah itu tinggal omong kosong. Dia dipingpong dari Hariyono ke Desir, anak buahnya, untuk mendapat bagi hasil parkir.
"Saya malu minta-minta begitu. Tik. Sakit ini," terang Salim seperti ditirukan Tijah.
Salim lalu menggalang kekuatan bersama kelompok petani, buruh tani dan nelayan melawan praktik tambang. Apalagi setelah Hariyono menipu mereka, soal rencana proyek wisata Pantai Watu Pecak. Desa Selok malah makin rusak. Sawah tak bisa ditanami akibat empasan air penutup lubang galian, nelayan susah melaut karena wajah pantai rusak. Jalan rusak dan debu pasir beterbangan menjadi polusi
"Rusak hancur-hancuran, merugikan orang banyak," kata Mulyadi, kerabat Salim.
Salim dan 12 warga yang dirugikan oleh tambang pasir kemudian membantuk Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Desa Selok Awar-awar. Mereka ingin penambangan pasir dihentikan dari desa. Perlawanan Salim tidak sembarangan. Dia berkoordinasi dengan Jatam, Walhi, KontraS Surabaya dan Forum Indonesia Hijau. Mereka menggelar demo 9 September 2015.
Sayangnya, setelah itu, teror ancaman pembunuhan malah semakin meningkat. Hingga puncaknya, Salim dieksekusi di depan warga oleh Tim 12 hingga nyawanya melayang. Tosan, rekan Salim pun hendak dihabisi, namun masih bisa diselamatkan.
***
Tulisan selengkapnya bisa dibaca gratis di edisi terbaru Majalah Detik (Edisi 201, 5 Oktober 2015). Edisi ini mengupas tuntas "Pasir Berdarah Lumajang". Juga ikuti artikel lainnya yang tidak kalah menarik, seperti rubrik Nasional "Coblos 'Setuju' atau 'Tidak'", Internasional "Rusia Datang, Assad pun Tenang", Ekonomi "Oleh-oleh Lawatan ke Arab", Gaya Hidup "Kulot, Old Fashion tapi Keren", rubrik Seni Hiburan dan review Film "Magic Mike XXL", serta masih banyak artikel menarik lainnya.
Untuk aplikasinya bisa di-download di apps.detik.com dan versi Pdf bisa di-download di www.majalah.detik.com. Gratis, selamat menikmati!! (mad/mad)












































